“ Pengalaman Workcamp Pertamaku ”
Akhir tahun 2008, aku mulai mendaftar sebagai anggota Indonesia International WorkCamp atau biasa disingkat IIWC. IIWC adalah sebuah LSM yang bergerak dan focus pada kerelawanan internasional dengan dua kegiatan utama yakni workcamp dan Long middle term volunteering (LMTV). Nah, yang akan saya ceritakan adalah tentang workcamp pertamaku ketika menjadi bagian dari big family of IIWC. Sebenarnya, workcamp adalah sebuah aktivitas kerelawanan oleh pemuda-pemuda dari berbagai negara, hidup, dan bekerja bersama-sama dengan penduduk lokal sehingga terjadi sharing pengetahuan dan sharing budaya dalam upaya mengatasi sebuah isu permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Ada berbagai macam workcamp dan bermacam-macam tema yang diangkat.
Waktu itu bulan Januari, aku mengikuti training campleader Spring 2009 yang diadakan oleh IIWC bertempat di Mangkang. Setelah training, aku ditempatkan untuk workcamp di Mangkang pada 27 Februari – 11 Maret 2009. Aku menjadi seorang co-leader dan campleaderku adalah Mualimah Hudatwi (nickname ; Ali). Aku memilih menjadi co-leader karena ini merupakan workcamp pertamaku dimana aku masih belum punya gambaran apa-apa tentang workcamp.
Well, workcamp pertamaku ini bernama “Mangkang International Spring WorkCamp with the theme about Environtmen and KIDS”, tapi walaupun namanya international namun participant yang terdaftar hanya empat orang Jepang. Mereka adalah Nana, Riko, Ayaka, dan Sri. Masing-masing dari mereka aku kasih nama jawa kuno sementara mereka memberikan nama Jepang pada aku (Yoshio/ Komedian Jepang) dan Ali (Himawari). Sejak pertemuan pertama kali dengan mereka, aku sangat senang sekali secara aku akan hidup bareng dengan orang Jepang dan tinggal serumah selama dua minggu. Saat pertama kali,kita makan siang bersama dan aku membeli nasi ayam bungkus. Dengan herannya, mereka melihat-lihat dan memfoto sambil bertanya “Kok bungkusan makanan di Indonesia lucu ya”. “Ehm, itu baru makanan saja, masih banyak keanehan lain yang nantinya bakal kamu temui”, batinku. Pada awal-awal hidup dengan mereka, aku melihat banyak sekali keanehan pada diri mereka, misal saja mandi tengah malam dan gosok gigi sambil nonton TV. Terusnya, pasta gigi mereka juga tidak berbusa seperti yang kita punya. Karena aku heran, maka akupun Tanya. Katanya itu adalah kebiasaan hidup orang Jepang (mandi malam ; mereka lakukan karena mereka memakai air hangat, gosok gigi jalan ; karena toilet tempat tinggal kita bau dan tidak ada wastafel).
Kehidupan kami selama workcamp sangat berwarna salah satunya adalah makanan. Kami memasak sendiri makanan selama workcamp, jadi salah satu keuntungan selama workcamp adalah mencicipi berbagai cemilan dan masakan Jepang. Tak kusangka mereka cukup lihai dalam memasak, yang saya ingat mereka memasak jaga bata, miso soup, martabak jepang, oseng-oseng jepang, onigiri, dan semacam sushi. Sebaliknya mereka juga aku kenalkan sama masakan Indonesia seperti mie godok, nasi goring, sambal tomat, sayur asem, dan bahkan masakan keong yang kita buru di sawah warga. Ya, Mangkang walaupun masuk wilayah kota Semarang, tapi suasana desa masih sangat kental dan terasa sekali. Banyak sawah, pohon, sungai, dan udaranya masih sejuk.
Apa sih yang sebenarnya kita lakukan dalam workcamp ?? Yup, aktivitas workcamp hampir bisa dikatakan seperti KKN oleh universitas. Selama workcamp, dalam setiap aktivitas kita melibatkan anak-anak dan warga sekitar. Selama workcamp di Mangkang, kita melakukan penanaman mangrove dan pohon mahoni, cooking exchange, mengajar anak-anak bahasa inggris dan kerajinan tangan, school visit, dan sebagainya. Selebihnya kita melakukan kegiatan-kegiatan menghabiskan waktu bersama seperti bermain dengan anak-anak, mencari keong di sawah, memancing kepiting, mengahdiri acara pernikahan, menangkap ikan dan kepiting di laut, berenang di tengah laut, membuat ketupat dan masih banyak pengalaman seru lainnya. Selama dua minggu workcamp kami ada sehari freeday dimana kami tidak beraktivitas dan kami menghabiskan waktu untuk berwisata ke Jogja dengan mengunjungi Candi Borobudur, Keraton Jogja, Candi Prambanan, dan Malioboro.
Dari workcamp aku bisa katakana bahwa bahasa inggrisku semakin meningkat karena sejak bangun tidur sampai tidur lagi kita mau tidak mau harus berkomunikasi dalam bahasa inggris. Selain itu aku juga dapat bertukar pengalaman dan kebudayaan. Waktu pertama kali mereka melihat aku sholat, mereka dengan keheranan mengamati aku dan bertanya kemudian apa yang sebenarnya aku lakukan. Dan pembicaraan kami berlanjut pada masalah agama. Sebelum tidur, kami pun sering menghabiskan waktu untuk bertukar pengalaman tentang studi kita masing-masing dan pengalaman kerja. Aku sangat salut ketika mereka mengatakan bahwa hampir seluruh remaja Jepang sudah mulai bekerja dengan part-time. Makanya, tidak heran kalau Jepang bisa maju (aku pun merasa iri). Selain banyak pengalaman lainnya, tentunya aku semakin mengenal budaya dan adat Jepang sehingga aku punya pengetahuan tentang intercultural learning. Dari sini, aku bisa memahami bagaimana seharusnya menempatkan posisi dan berkelakuan di depan mereka. Dan terakhir, melalui workcamp aku tidak sadar bahwa aku telah menjadi seorang volunteer atau relawan, karena selama workcamp banyak sekali kegiatan-kegiatan sosial yang kami lakukan demi kehidupan masyarakat yang lebih baik di masa mendatang. Untuk itu, aku sangat berterima kasih sekali kepada IIWC (www.iiwcindonesia.wordpress.com) selaku penyelenggara utama workcamp di Indonesia. I do hope by sharing my workcamp experience, there will more people interested and finally decide to take part in workcamp. “ Individually we change ourself, together we can change the world”. Buka mata untuk melihat keindahan akan keragaman kehidupan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar