Pada Januari 2011 yang lalu, aku berkesempatan menjadi leader dalam bilateral workcamp antara IIWC Indonesia dengan KNCU Korea Selatan. Peserta Indonesia yakni hanya aku, matsu (mahasiswa Undip sastra Jepang), dan Rina (Mahasiswa USM Psikologi). Sedangkan peserta Korea Selatan berjumlah sepuluh orang, empat perempuan dan enam laki-laki. Mereka semua adalah orang-orang yang terpilih melalui seleksi yang diadakan oleh Universitas mreka yaitu Hongik University di Seoul Korea Selatan. Seperti yang saya jelaskan sebelum-sebelumnya bahwa aktivitas workcamp adalah semacam KKN tapi lingkupnya yang lebih luas karena melibatkan pihak-pihak dari luar negeri disamping jangka waktunya yang lebih pendek yakni dua minggu saja.
Selama hidup dua minggu dengan mereka, akupun telah melakukan berbagai macam hal bersama, dan seringkali aku sharing dengan mereka tentang studi maupun membandingkan kehidupan di Indonesia dan Korea Selatan. Selain itu, akupun sering mengamati tingkah-laku atau kebiasaan mereka dan seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan menjejali pikiranku. Kesan selama hidup dengan orang Korea Selatan adalah mereka sangat sopan sekali dan sangat mudah mengucapkan kata-kata “maaf”. Yang saya suka dari mereka adalah walaupun mereka dari Negara maju, tapi mereka tidak pernah sama sekali merendahkan Negara Indonesia yang kondisinya masih tertinggal. Mereka adalah tipe orang-orang yang sangat ulet dan pekerja keras. Kerasnya mereka bekerja bahkan tidak terlalu melihat waktu. Seringkali saya melihat mereka tidur larut malam sekali karena mereka perlu berdiskusi dahulu secara matang untuk kegiatan-kegiatan esok hari. Ketika saya Tanya kenapa perlu melakukan itu, secara spontan dijawab “Ya, karena kami harus bisa memberikan yang terbaik dan kami harus selalu siap”. Bahkan ketika ada malam pertukaran budaya, mereka menghabiskan waktu yang sangat lama sekali untuk penampilan mereka. Itu dijawabnya karena orang Korea Selatan harus tampil perfect dalam setiap performance mereka. Makanya penting sekali bagi orang Korea Selatan untuk mengadakan persiapan dalam jangka waktu yang cukup lama untuk berlatih agar bisa memberikan penampilan terbaik mereka.
Orang Korea Selatan adalah tipikal orang yang sangat kompetitif,sejak lahir mereka dibiasakan hidup untuk berkompetisi dan menjadi yang terbaik diantara yang lain. Mereka sadar bahwa Negara mereka miskin SDA, makanya satu-satunya sumber penghidupan Korea Selatan selatan adalah dari kecerdasan intelektual orang-orangnya. Hidup di Korea Selatan Selatan sama sekali berbeda dengan di Negara kota. Orang Korea Selatan menghabiskan hari-harinya dengan belajar, belajar , dan belajar. Mereka biasanya memulai waktu belajarnya di sekolah mulai jam 8 pagi sampai 4 atau 5 sore. Kemudian, mereka melanjutkan belajar lagi dengan les tambahan oleh sekolah tiga sampai empat jam. Ya, sekolah-sekolah di Korea Selatan diwajibkan untuk memberikan les tambahan setelah jam sekolah berakhir. Setelah itu, pendidikan mereka lanjutkan dengan pendidikan non formal seperti mengikuti kursus musik, kursus, menari, atau yang lainnya. Kemudian setelah sampai di rumah, guru les privat mereka telah menunggu untuk memberikan bimbingan belajar bagi mereka. Tidak heran mereka harus tidur diatas jam 12 malam karena kesibukan mereka untuk belajar, belajar, dan belajar. Jadi, pendidikan dan belajar bagi orang Korea Selatan sudah menjadi nafas kehidupan bagi mereka. Jadi maju-tidaknya Negara ini akan ditentukan oleh orang-orang di dalam Negara itu sendiri. Sudah semestinya fighting spirit orang-orang Korea Selatan kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita mampu menjadi pribadi yang unggul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar