Waktu itu (pertengahan maret 2011) aku melihat ada info tentang pendaftaran mawapres tingkat jurusanku yakni jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisip- Undip. Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk mendaftar karena tahun kemarin aku juga tidak ikut mendaftar. Tapi ketika aku memasuki ruang jurusan, salah satu dosen memanggilku dan menanyakan tentang IPK-ku, sontak saja aku menjawab “3,82 Bu”. Sesaat setelah itu, Ibu itu (Bu Rina) menyuruhku kenapa tidak ikut saja untuk seleksi mawapres, kan dimanfaatin IPK yang bagus. Sudah kemana-mana tapi di dalam kampus sendiri tidak berbuat apa-apa. Ya sih, sebelumnya aku udah pernah ikut seminar ke Kamboja dan terakhir mengikuti workcamp di Belanda. Aku memang sangat suka sekali dengan dunia internasional, it’s full of fun inside !!. Well, namun ketertarikanku pada dunia akademis seperti lomba karya ilmiah atau esay dan yang lainnya sangatlah kurang. Entahlah, aku selalu merasa less interested..
Kembali pada masalah pendaftaran mawapres, karena hanya tiga orang saja yang mendaftar di jurusanku akhirnya kita bertiga langsung dikirim untuk mewakili jurusan di seleksi tingkat Fakultas. Ini merupakan pengalaman pertamaku ikut mawapres dan juga yang lainnya. Setelah beberapa hari, aku mendapat info untuk hadir dalam ruang aula fisip dalam proses seleksi mawapres. Dengan meminjam jas almamater temanku, aku berangkat (maklum jas almamaterku sudah lama dihilangkan oleh salah satu temanku). Di aula, tempat seleksi diatur sedemikian rupa menjadi empat pos yakni pos karya tulis ilmiah, pos bahasa inggris, pos kepribadian, dan pos kegiatan ekstra-kulikuler. Selain S-1 ternyata seleksi juga dibarenkan dengan D-3. Dari S-1 ada 11 orang mahasiswa, masing-masing jurusan (empat jurusan) mengirimkan tiga orang mahasiswanya kecuali ada salah satu jurusan yang mengirimkan hanya dua orang. Untuk D-3 jumlah mahasiswanya mungkin sekitar 10-12 orang.
Setelah cukup lama menunggu, pertama kami mendapat arahan singkat dari Pak Handoyo (PD 3 Fisip). Beliau member semangat pada kami semua bahwa dalam kompetisi jangan takut kalah yang penting berikan semaksimal mungkin dari diri kita. Ada hal yang menarik diutarakan beliau bahwa mawapres fisip selalu dilirik oleh fakultas-fakultas yang lain karena sudah sejak lama mawapres fisip mampu menjadi juara pertama tingkat universitas dan beberapa diantaranya telah menjadi juara nasional, tentunya ini sangat membangggakan bagi Undip.Setelah mendengar arahan dan nasehat pak Hand, aku pun hanya berdoa dan berusaha untuk memberikan semaksimal mungkin semampu aku.
Namaku pertama kali dipanggil untuk masuk dalam pos bahasa inggris, namun karena penguji belum siap maka akupun disuruh kembali ke tempat duduk dan menunggu untuk dipanggil. Namun setelah lama menunggu akupun tidak kunjung dipanggil sementara yang lainnya sudah dipanggil lebih dulu. Ternyata setelah aku Tanya bahwa petugas bagian sirkulasi lupa atas namaku. Namun sesaat setelah itu aku kemudian dipanggil lagi, tapi untuk memasuki pos yang lain yakni pos karya tulis ilmiah. Dalam pos ini aku Cuma dikasih waktu lima menit untuk presentasi, bagi aku ini adalah waktu yang sangat singkat. Setelah selesai presentasi, akupun diberi beberapa pertanyaan dan alhamdulilah semua pertanyaan dapat aku jawab dengan tenang dan lancar..Thanks God. Karya tulis yang aku angkat adalah tema yang berkaitan dengan wilayah pasca konflik dengan judul Upaya Peacebuilding Anak-anak Ambon pascakonflik dan Kekerasan Ambon Tahun 1999 melalui Children Newspaper Program. Menurutku ini adalah setudi yang unik karena masih merupakan hal yang sangat baru di Indonesia dan mampu menjadi solusi kreatif bagi permasalahan Indonesia yang rentan terhadap berbagai konflik dan kekerasan sosial yang marak terjadi akhir-akhir ini.
Lanjut kemudian aku dipanggil lagi untuk memasuki pos ke-organisasian mahasiswa atau ekstrakulikuler. Disini, aku hanya disuruh menunjukkan berbagai bukti atau sertifikat semua kegiatan kemahasiswaan maupun kulikuler yang telah aku lakukan selama ini. Untungnya dalam cukup banyak sertifikat ada dua yang pernah aku lakukan di luar negeri yakni Kamboja dan Belanda. Dibanding yang lain, sertifikat yang aku kumpulkan cukup banyak karena aku sudah rajin mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kulikuler sejak awal masuk kuliah hingga saat ini. Dalam pos ini, sebenarnya adalah pendataan setiap sertifikat yang aku miliki, cukup lama aku bertengger di pos tersebut.
Lalu, pos selanjutnya adalah pos kepribadian. Disini, aku mulai disuruh untuk mengenalkan siapa diri aku dan semakin jauh diberondong dengan berbagai pertanyaan kritis tentang kelemahan, kelebihan, maupun kegagalan dalam hidupku. Sebenarnya pertanyaan ini terdengar mudah tapi sebenarnya cukup sulit untuk dijawab. Menurutku semua jawaban yang aku ajukan adalah benar, karena itu semua adalah pertanyaan relative. Yang terpenting adalah kejujuran dan sikap tenang yang aku tunjukkan. Perlu diketahui bahwa dalam pos kepribadian, penguji juga menanyakan tentang visi ke depan kita mau kemana dan ingin menjadi apa. Dari situ akan dapat diketahui apakah kita seorang yang visioner atau bukan.
Pos terakhir adalah pos bahasa inggris. Pos yang sebenarnya menjadi pos pertama aku malah menjadi pos terakhir aku dan aku jugalah kontestan terakhir dalam pos ini. Di pos ini aku merasa cukup relaks dan optimis karena sebenarnya aku sudah cukup terbiasa bicara bahasa inggris. Yah, itu semua karena pengalaman aku yang cukup lama terjun dalam dunia international voluntary service di LSM IIWC selama lebih dari dua tahun. Selama aku berkarya di sana, aku sering ketemu dengan relawan-relawan asing dan tentunya mengasah aku untuk selalu mempergunakan bahasa inggris dalam berkomunikasi. Dalam pos ini, aku pertama disuruh untuk perkenalan diri, kemudian dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan tentang kehidupan aku atau mungkin akan ditanya tentang isu-isu terhangat saat ini. Dan terakhir, aku disuruh menceritakan tentang karya tulisku dalam bahasa inggris. Lega rasanya setelah melewati semua pos.
Sehari setelah seleksi mawapres Fisip, aku terkejut ketika beberapa dosen di ruang jurusan aku mengucapkan ucapan selamat atas terpilihnya aku menjadi juara satu mawapres Fisip. Aku setengah tidak percaya karena pengumuman resmi belum ada. Ternyata, dua dosenku yang menjadi penguji kemarin telah mendapatkan hasilnya dalam sidang pleno. Akupun merasa senang pada akhirnya tapi masih setengah percaya karena aku tidak ada gambaran sebelumnya akan menempati posisi satu. Yah, Sujud syukur akhirnya aku limpahkan pada Kehadirat Tuhan YME atas segala rencana besarnya terhadapku. Aku merasa bahwa dibalik tertundanya kelulusanku ada sesuatu yang besar menantiku. Dari situlah aku mulai belajar tentang hikmah-hikmah yang aku dapatkan dalam sebuah ketertundaan atau bahkan kegagalan. Aku sekarang yakin bahwa Tuhan punya selalu rencana besar dan terbaik buat diriku. Semenjak aku memenangkan mawapres Fisip, gairahku untuk terus maju dan berkarya menjadi semakin meningkat. Sekarang aku tidak takut lagi akan sebuah kompetisi, malahan sekarang aku menyesal telah meninggalkan banyak sekali kompetisi yang seharusnya bisa membawaku lebih berprestasi sejak aku masuk kuliah sampai detik sebelum aku memutuskan ikut mawapres. Untuk rasa terima kasih ini pertama aku tujukan kepada Ibu Rina Martini selaku skretaris jurusan ilmu pemerintahan Fisip Undip yang telah menjerumuskan aku untuk lebih berprestasi. Bagi aku sekarang adalah kompetisi bukanlah antara menang dan kalah tapi lebih penting adalah bagaimana kita memaksimalkan potensi kita dan belajar dari setiap proses yang kita lalui baik sebelum maupun ketika kompetisi dimulai. Sebagai mahluk pembelajar sudah sepatutnya kita mulai untuk tidak takut lagi mengikuti ajang-ajang kompetisi demi mengejar ketertinggalan kita dari saudara-saudara kita di Negara maju. Tidak akan ada Negara yang maju tanpa adanya semangat kompetisi diantara warga negaranya. Go ahead !!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar