Mungkin banyak dari kita yang menganggap bahwa studi atau jurusan yang kita ambil di universitas akan membuat kita kalau bekerja harus sesuai dengan studi jurusan kita. Itu adalah sebuah paradigma lama yang bisa saya samakan dengan paradigmaa anak SMA. Saya secara pribadi juga sebelumnya pernah mengalami hal yang sama ketika saya baru akan lulus SMA pusing tujuh keliling untuk menentukan jurusan apa yang cocok dengan saya, tapi lebih tepatnya adalah pikiran ke depan akan pekerjaan apa yang akan saya lakoni ketika saya nanti lulus kuliah. Nah, hal itu tentu saja membuat banyak dari kita menganggap bahwa studi yang kita ambillah yang akan menentukan jenis pekerjaan kita nantinya. Tapi perlu saya garis bawahi sekali lagi disini bahwa pemikiran seperti adalah salah kaprah dan tidak sesuai dengan realita.
Jauhkanlah pemikiran bahwa dengan kuliah saya akan tercetak menjadi tenaga yang handal dalam dunia kerja dan akan mendapatkan posisi kerja yang mapan. Jika hal itu menjadi paradigma kita, maka kita sama saja menyamakan kuliah sama dengan mesin produksi yang setiap saat mencetak produk yang layak digunakan oleh user (perusahaan, instansi, dan lain-lain). Kita perlu merubah hal itu bahwa kuliah sebenarnya adalah mampu mengubah pola pikir dan cara pandang kita akan kehidupan, dan masa depan. Orang yang kuliah adalah orang-orang yang mendapat pengetahuan lebih tinggi dan dengan pengetahuan yang lebih itu seharusnya membuat kita menjadi individu pemikir (thinker). Jika kita hanya berpikir bahwa studi kita menentukan masa depan dan pekerjaan kita, maka kita laksana “katak dalam tempurung”. Kita akan menjadi pribadi yang berpikiran sempit, dan membuat kita untuk selalu berpikir dan belajar hal-hal yang melulu sesuai dengan studi yang kita ambil.
Perlu ditekankan bahwa jurusan di kuliah hanyalah penunjang bagi karir di dunia kerja. Dunia kerja lebih membutuhkan orang-orang yang cakap (skillful) yang mampu menggerakkan roda usaha perusahaan atau institusi. Maksud saya disini adalah banyak sekali perusahaan yang menyeleksi calon karyawannya yang pertama dilihat bukanlah dari IPK ataupun jurusannya namun lebih karena soft skill apa yang kita miliki dan mampu kita tawarkan semenarik mungkin pada perusahaan. Soft skill disini bisa bermacam-macam seperti kemampuan komunikasi bahasa asing, computer, leadership, teamwork, cakap berbicara, percaya diri dan kepribadian-kepribadian positive lainnya. Memang penting jurusan kita terhadap kemampuan kita dalam bekerja, tapi apa yang mau dibanggakan kalau IPK tinggi, jurusan bagus, dari universitas prestisius, namun kita gugup ketika wawancara atau kemampuan bahasa inggris kita NOL BESAR. Kita akan sangat malu, dan siap-siap untuk ditolak dan tidak dibutuhkan oleh dunia kerja lagi mungkin. Inilah pentingnya mengasah kemampuan softskill selama masih kuliah dengan mengikuti berbagai aktivitas organisasi, training, seminar, workshop atau kegiatan-kegiatan pengasahan skill lainnya seperti kursus misalnya. Itulah sebenarnya alasan utama yang membuat banyak mahasiswa kita yang menjadi pengangguran atau sulit mendapatkan pekerjaan. Dunia kerja adalah dunia yang penuh kompetisi, maka sebelum kita terjun kesana maka rajin-rajinlah bagi kita untuk mengumpulkan bekal sebanyak mungkin, bekalnya adalah softskill. Kemampuan akademis kita selama di universitas mau tidak mau harus diimbangi dengan berbagai kemampuan softskill.
Saya yakin semua orang memiliki potensi yang sama, tinggal bagaimana kita mengasah potensi yang kita miliki adalah yang nantinya membedakannya. Jika mau maju, marilah kita mulai mempersiapkan bekal kita untuk menatap masa depan yang cerah dengan optimisme. Bekal yang cukup akan membuat kita untuk selalu percaya diri, siap, dan selalu berpikiran maju ke depan. Satu kata terakhir “Be Inspired or will be Expired ”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar