Cari Blog Ini

Senin, 18 April 2011

Resensi Film “The Social Network”

Dalam film ini actor utamanya adalah Mark Zuckberger yaitu penemu facebook. Ya, facebook yang telah menjangkau hampir setiap sudut di dunia ini. Facebook saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan manusia dalam bersosialisasi.

Pada awalnya, Mark merasa depresi berat karena diputuskan oleh pacarnya. Pacarnya sudah muak sekali dengan Mark karena dalam setiap kencan mereka, Mark selalu berbicara hal-hal yang terlalu ilmiah dan terlalu susah untuk dipahami oleh orang awam. Akhirnya, kemuakan pacarnya membuat ia memutuskan hubungan dengan Mark. Karena frustasi berat, maka Mark melampiaskan marahnya dengan nulis di blognya dan dibaca banyak mahasiswa di Harvard University. Ia menumpahkan segala amarah dan emosinya dalam tulisannya itu.  Dalam waktu yang bersamaan Mark juga membuat sebuah kuis dalam the facemash untuk menebak salah satu wajah dari dua wajah yang ditampilkan mana yang paling cantik dari keduanya. Dengan cepat kuisnya tersebut menyebar di seluruh kalangan mahasiswa Harvard dan berkat itulah ia mulai dikenal lebih luas oleh mahasiswa Harvard. Tapi dengan itu juga, ia disidang oleh Dewan Universitas karena ulahnya itu telah melumpuhkan koneksi internet di Harvard. Kemudian, kabar ulah Mark itu didengar oleh si kembar Winklevos dan mereka akhirny menemui Mark untuk menawarkan sebuah kerjasama dalam merealisasikan ide mereka untuk membuat “The Facebook”. Dengan spontan, Mark menjawab “ya, I’m in.

Kemudian cerita berlanjut dimana aktivitas membuat facebook sangat menyita waktu Mark. Dia selalu terinspirasi dari celoteh teman-temannya untuk menambahkan konten baru dalam facebooknya seperti status, wall, photo profile, dan sebagainya. Hingga akhirnya facebook itu siap dan dia launching bersama teman baiknya yakni Eduardo. Launch pertama dikirimkan ke group “The Phoenix”, dan cepat menyebar di kalangan itu. Dan melihat keberhasilannya, Mark kemudian memperluas penyebaran facebook ke Kampus lain seperti Colombia, Yale. Hingg akhirnya kabar itu terdengar oleh Sean Parker (Penemu Napster/Pengunduh music online). Sean Parker akhirnya bergegas menemui Mark, dan menceritakan hal-hal yang perlu dilakukan oleh Mark untuk menjadikan facebook berharga milyaran dolar AS.

Atas saran itu, kemudian Mark siap untuk terus meng-ekspansi dan menyewa sebuah rumah di California  dan memperkerjakan beberapa orang dari mahasiswa Harvard. Di California, tak sengaja ia ketemu lagi dengan Sean Parker dan akhirnya Sean Parker bergabung dengan tim Mark dalam mengembangkan facebook bersama dengan Eduardo. Tapi pada saat itu, Eduardo sedang di New York untuk mencari klien iklan. Kedatangan Eduardo di California, sempat membuat pertengkaran dengan Mark karena Mark lebih mempercayai kemampuan Sean dalam mengembangkan bisnis facebooknya dan lihai dalam mencari klien bisni/investor. Akhirnya, Mark dan Sean menemui seorang investor yang ingin menanamkan saham senilai 500juta dolar AS. Hal tersebut tentu saja membuat Mark semakin optimis dan yakin kalau facebook yang ia kembangkan bernilai milyaran dolar. Dan pada akhirnya, mereka menempati sebuah gedung tinggi dalam menjalankan server facebook dan jumlah karyawannya pun semakin bertambah banyak. Kemudian, Mark terus memperluas facebook tidak hanya di Amerika, namun telah menjangkau di seluruh benua sampai saat ini. Namun, dalam perjalanan karir Mark, ia sempat disidang habis-habisan karena ia dituduh oleh si Kembar Winklevos atas pencurian ide mereka atas facebook. Dan cerita akhirnya adalah kedua si kembar itu bisa tutup mulut dengan diberi imbalan  sejumlah uang.

Cerita dari Negeri Belanda

Siapa sih yang tidak mengenal Negara Belanda. Negara ini terletak di Benua Eropa bagian Barat. Belanda dikenal dengan julukan negeri “Kincir Angin”, yak arena belanda memiliki jumlah kincir angin terbanyak sedunia. Hal ini menyangkut posisi negeri belanda yang berada di bawah permukaan air laut, dan dengan kepintaran orang Belanda jaman dulu mereka membendung lautan, dikeringkan menggunakan kincir-angin kincir-anginnya, dan dirubah menjadi daratan untuk dibangun permukiman. Sungguh hebat negeri ini. Negara kita juga memiliki kedekatan dengan Negara ini di masa lalu yakni kolonialisme dimana Belanda menjajah lebih kurang 350 tahun. Ini merupakan waktu yang sangat lama sehingga tidak sedikit di Negara kita banyak ditemui bangunan-bangunan peninggalan colonial Belanda.

Ceritaku ke Belanda bermula ketika aku mengikuti seleksi yang diselenggarakan oleh organisasiku yakni Indonesia International Work Camp. Organisasi IIWC memiliki kedekatan dengan organisasi di Belanda yang bernama SIW. Setiap tahunnya, SIW mengundang satu hingga dua orang dari Negara-negara selatan untuk berkesempatan mengunjungi Belanda. Jadi, semua biaya konsumsi, akomodasi, dan flight dikover oleh mereka.

Perjalanan ke Belanda merupakan perjalanan pertama kaliku ke negeri Eropa, negeri yang aku impikan untuk aku kunjungi selama ini. Aku berangkat akhir bulan Juli, pas ketika aku menyelesaikan ujian akhir semesterku di Undip. Aku akan berada disana selama kurang lebih satu bulan. Akhirnya, pesawat yang aku tumpangi landing juga di Bandara Schipol, Belanda. Bandaranya sungguh megah, bersih, dan bagus sekali dipadati dengan ribuan orang di dalamnya.  Karena aku tidak ada yang menjemput, dan aku dijemputnya di Utrecht, maka aku harus naik kereta ke Utrecht untuk pertama kalinya. Satu-satunya yang aku bisa lakukan adalah bertanya dan bertanya bagaimana mendapatkan tiket ke Utrecht dan seperti apa keretanya. Untung, orang belanda sebagian besar cakap dalam berbahasa Inggris. Singkatnya, akhirnya aku berhasil mencapai Utrecht dan dijemput salah satu staff SIW.  Selama disana, aku menggunakan nomor Simpati dimana per sms berbiaya  Rp 4.000.

Selama satu bulan di Belanda, aku akan diikutkan dalam kegiatan workcamp atau kemah kerja. Workcamp pertamaku adalah di Winterswijk, daerah perbatasan dengan Jerman. Disana aku berkegiatan dengan anak-anak para pencari suaka politik yang datang bersama orang tua mereka untuk menjadi warga Negara Belanda dan bekerja di Belanda.  Mereka berasal dari  Negara-negara yang berkecamuk di beberapa bagian Afrika, Timur Tengah, Mongolia, dan Asia Tengah. Disini, mereka harus belajar bahasa dan budaya belanda sebelum mendapatkan status diakui menjadi warga Belanda. Mereka harus menunggu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Aktivitas workcamp yang aku lakukan dengan anak-anak mereka adalah bermain dan mengadakan kelas kerajinan/seni. Permainan yang kami lakukan semuanya di luar ruangan, baik menggunakan alat ataupun tidak. Sementara untuk aktivitas kerajinan kami lakukan di dalam ruangan.

Setelah dua minggu di Winterswijk, perjalanan aku lanjutkan ke Emmaus Parkwijk. Tempat ini tidak jauh dari Utrecht City. Untuk mencapai kesana, aku harus naik bus dari Central station Utrecth. Aktivitas workcamp kedua ini, aku berkegiatan membantu orang-orang Emmaus dalam pekerjaan mereka. Emmaus adalah sebutan untuk orang-orang yang memiliki masalah sosial seperti kecanduan alcohol, obat, perceraian, dan sebagainya, dimana orang-orang ini hidup bersama  dalam satu rumah untuk saling berbagi dan belajar, dan bekerja bersama-sama untuk menjual kembali barang-barang bekas. Ya, mereka bekerja dengan mengumpulkan barang-barang bekas, menyortirnya, dan menjualnya sebagai usable second hand. Disini aku juga menghabiskan waktu selama dua minggu.

Setelah semua kegiatan workcampku selesei, segera aku menuju ke Rotterdam untuk bertemu teman-temanku. Sesampainya disana aku dijemput oleh Duco, dan segera dibawanya aku ke Univ Rotterdam karena dia masih ada kelas. Dengan ijin dosen, akupun diajak mengikuti kelasnya. Di dalam kelas, suasana sangatlah rileks, dan tiap mahasiswa dengan bebas mengungkapkan opininya serta bercerita tentang masing-masing pengalamannya selama liburan di luar negeri. Aku memang berteman dengan Duco ketika dia datang ke Indonesia sebelum aku berangkat ke Belanda. Kelas juga dalam kelompok kecil yakni sekitar 15 orang. Setelah itu, aku bertemu dengan teman-temanku yang lain di welcoming party. Disana, aku diajak ngobrol oleh salah satu dosen Rotterdam univ yang cakap berbahasa Indonesia. Dan akhir perjalanan, aku mampir ke rumah salah satu orang Indonesia yang berkebangsaan Belanda. Di rumahnya aku sambut dengan berbagai masakan ala Indonesia yang aku rindukan selama di Belanda.

Ada beberapa fakta unik di Belanda yang aku jumpai. Pertama, jumlah sepeda onthel di Belanda sangat banyak sekali, konon jumlah sepeda di Belanda lebih banyak dibandingkan jumlah penduduknya. Kedua, ternyata banyak sekali warga Belanda yang masih keturunan Indonesia entah itu setengah atau seperempat. Bahkan disana banyak sekali warga Ambon dari eksodus masal  yang kawin campur dengan orang-orang Belanda. Ketiga, masyarakat Belanda sangat gemar sekali dengan masakan Indonesia, yang paling terkenal seperti kroket, lumpia, dan saus sate. Di sana, kita bisa menjumpai supermarket yang khusus menjual berbagai produk masakan Indonesia. Keempat, ada banyak sekali nama-nama jalan di belanda menggunakan nama-nama Indonesia seperti Surabayastraat, Semarangstraat, Sumaterastraat, Kartinistraat’, dan lainnya. Kelima, Belanda menjadi Negara yang paling ketat penegakan hukumnya dimana jika ada pelanggaran sedikitpun terhadap aturan-aturan akan didenda. Keenam, belanda sangat peduli dengan masyarakat yang kurang mampu dengan menyediakan hiburan gratis, biaya hidu, transportasi gratis dan sebagainya. Ketujuh, Belanda sangat peduli dengan kondisi pelajarnya dimana pelajar akan mendapatkan uang saku berdasar besaran penghasilan orang tua, serta transportasi gratis. Kedelapan, orang belanda sangat suka sekali makan kentang goreng ditemani dengan saus kacang/saus sate. Kesembilan, ada perayaan unik yang dirayakan oleh warga Belanda yaitu “Gay Pride” dimana para gay dengan bebas mengekspresikan keinginan dan kehendak mereka, jadi jangan heran kalau di jalan-jalan ada orang sesama jenis bergandeng tangan atau bermesraan. Kesepuluh, kanal-kanal di Belanda tidak pernah naik ataupun surut walaupun hujan. Jadi airnya selalu stabil karena dikontrol oleh Bendungan.

Lihatlah Keatas Jika Mau Sukses, dan Lihatlah ke Bawah Jika Mau Mengeluh

Banyak dari masyarakat kita yang tergolong dalam ekonomi menengah ke bawah. Bahkan berdasarkan perhitungan Bank Dunia dengan standar penghasilan US $ 2/hari membuat Indonesia berpenduduk miskin dengan besaran 50%. Ya, tentu saja ini merupakan angka yang sangat mengejutkan. Jika kita melihat di berbagai sudut wilayah Negara ini baik di desa maupun kota, tidak sedikit kita melihat berat dan kerasnya kehidupan saudara-saudara kita. Tapi, jika kita terus mengeluh dan melamunkan berbagai penderitaan tersebut maka niscaya kita akan mampu membawa diri kita dan Negara kita menuju kesuksesan mengejar ketertinggalan dengan Negara lain.

Tanamlah selalu sikap opimitis dalam diri kita bahwa dengan berani bermimpi, maka kita sudah mulai menginjakkan kaki menuju puncak kesuksesan. Tapi apalah arti bermimpi atau bercita-cita tanpa dibarengi dengan usaha dan keyakinan. Kita harus berkomitmen terhadap apa yang kita cita-citakan dan terus yakin bahwa segala sesuatu akan menjadi mungkin dan kita raih apabila kita berani untuk mengambil tindakan. So, itulah yang banyak dilupakan sebagian besar dari kita bahwa banyak yang bermimpi menjadi sukses, tapi takut untuk mencoba. Selain itu, tanamkanlah selalu dalam pikiran kita bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang masa depan. Kita bisa melihat banyak sekali tokoh-tokoh dunia yang berhasil menjadi kaya ataupun menemukan berbagai macam alat-alat canggih yang kita rasakan saat ini tidak terlepas dari pendidikan. Tidak jauh dari Negara kita di Asia yakni Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, dan Singapura yang maju negaranya karena sangat menjunjung tinggi pendidikan. Pemerintah maupun masyarakat disana sangatlah menghargai pentingnya berpendidikan tinggi. Ada pepatah mengatakan bahwa belajarlah sampai ajal menjemput kita. Belajar tidaklah harus berada di sekolah, tapi belajar bisa lakukan dimanapun dan kapanpun. Alam, kehidupan, buku, internet, orang-orang sekitar dan berbagai hal di sekitar kita bisa kita jadikan laboratorium untuk belajar. Bahkan  beberapa orang yang mengalami kecacatan fisik seperti kebutaan, dan tuna rungu mampu menunjukkan bahwa mereka bisa berpendidikan tinggi dan meraih kesuksesan. Banyak diantara mereka yang mampu kuliah di luar negeri, dan akhirnya menjadi dosen. Jika kita melihat film laskar pelangi yang sangat terkenal beberapa waktu lalu seakan member pelajaran bagi kita bahwa keterbatasan tidak akan mampu menghalangi orang-orang yang berani bermimpi dan mengambil langkah-langkah mewujudkannya.

Keterbatasan seolah menjadi kata yang mampu mengungkung pikiran dan keberanian kita untuk menjadi orang yang sukses. Ada berbagai macam keterbatasan dalam hidup manusia baik keterbatasan fisik (cacat fisik), maupun keterbatasan non-fisik seperti keterbatasan ekonomi, akses, dan sebagainya. Diantara sekian banyak keterbatasan, yang paling mendera sebagian besar masyarakat kita adalah kemiskinan. Ya, kemiskinan memang menjadi momok bagi sebagian masyarakat putus asa untuk menggapai kesuksesan. Tapi ingat bahwa banyak sekali masyarakat dunia yang mampu menjadi orang-orang sukses dan besar berawal dari kemiskinan. Kadang aku berpikir dan mengeluh kenapa aku dilahirkan dari keluarga yang pas-pas-an. Tapi ketika aku bertemu dengan tetangga-tetangga aku, ternyata aku sangat lebih beruntung dari mereka. Sampai saat ini mereka masih hidup dalam belenggu kemiskinan. Hidup susah, anak banyak, makan seadanya, dan suami bekerja serabutan dengan penghasilan tidak tentu. Hal ini membuat aku dengan segera bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa ternyata nasib aku lebih baik daripada saudara-saudara aku. Walaupun orang tua aku bekerja sebagai petani dan pekerja swasta lantas tidak membuat aku mudah menyerah pada nasib. Aku yakin bahwa dengan pendidikan tinggi dibarengi dengan motivasi untuk belajar seumur hidup, maka aku bisa mengubah nasib keluargaku dan mengubah nasib dunia. Kelak, ketika  aku sukses aku akan selalu berpikir untuk mengangkat lebih banyak orang lagi untuk berkesempatan berpendidikan tinggi. Aku ingin sekali menyekolahkan anak-anak tetanggaku yang masih terbelenggu kemiskinan. Lantaskah aku selalu mengeluh dengan keterbatasanku ini, tentu itu malah akan membuat semangatku menciut.  Jadi, sekarang aku akan selalu bersyukur dan memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuaku yang telah membanting tulang menyekolahkan aku sampai perguruan tinggi. “Thanks to My Mom and Dad, without you I’ll be no one and nothing “. Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Semangat bagi kita semua.

Minggu, 10 April 2011

Siapa Bilang Studi Jurusan Kuliah Menentukan Masa Depan Kita ?


Mungkin banyak dari kita yang menganggap bahwa studi atau jurusan yang kita ambil di universitas akan membuat kita kalau bekerja harus sesuai dengan studi jurusan kita. Itu adalah sebuah paradigma lama yang bisa saya samakan dengan paradigmaa anak SMA. Saya secara pribadi juga sebelumnya pernah mengalami hal yang sama ketika saya baru akan lulus SMA pusing tujuh keliling untuk menentukan jurusan apa yang cocok dengan saya, tapi lebih tepatnya adalah pikiran ke depan akan pekerjaan apa yang akan saya lakoni ketika saya nanti lulus kuliah. Nah, hal itu tentu saja membuat banyak dari kita menganggap bahwa studi yang kita ambillah yang akan menentukan jenis pekerjaan kita nantinya. Tapi perlu saya garis bawahi sekali lagi disini bahwa pemikiran seperti adalah salah kaprah dan tidak sesuai dengan realita.

Jauhkanlah pemikiran bahwa dengan kuliah saya akan tercetak menjadi tenaga yang handal dalam dunia kerja dan akan mendapatkan posisi kerja yang mapan. Jika hal itu menjadi paradigma kita, maka kita sama saja menyamakan kuliah sama dengan mesin produksi yang setiap saat mencetak produk yang layak digunakan oleh user (perusahaan, instansi, dan lain-lain). Kita perlu merubah hal itu bahwa kuliah sebenarnya adalah mampu mengubah pola pikir dan cara pandang kita akan kehidupan, dan masa depan. Orang yang kuliah adalah orang-orang yang mendapat pengetahuan lebih tinggi dan dengan pengetahuan yang lebih itu seharusnya membuat kita menjadi individu pemikir (thinker). Jika kita hanya berpikir bahwa studi kita menentukan masa depan dan pekerjaan kita, maka kita laksana “katak dalam tempurung”. Kita akan menjadi pribadi yang berpikiran sempit, dan membuat kita untuk selalu berpikir dan belajar hal-hal yang melulu sesuai dengan studi yang kita ambil.

Perlu ditekankan bahwa jurusan di kuliah hanyalah penunjang bagi karir di dunia kerja. Dunia kerja lebih membutuhkan orang-orang yang cakap (skillful) yang mampu menggerakkan roda usaha perusahaan atau institusi. Maksud saya disini adalah banyak sekali perusahaan yang menyeleksi calon karyawannya yang pertama dilihat bukanlah dari IPK ataupun jurusannya namun lebih karena soft skill apa yang kita miliki dan mampu kita tawarkan semenarik mungkin pada perusahaan. Soft skill disini bisa bermacam-macam seperti kemampuan komunikasi bahasa asing, computer, leadership, teamwork, cakap berbicara, percaya diri dan kepribadian-kepribadian positive lainnya. Memang penting jurusan kita terhadap kemampuan kita dalam bekerja, tapi apa yang mau dibanggakan kalau IPK tinggi, jurusan bagus, dari universitas prestisius, namun kita gugup ketika wawancara atau kemampuan bahasa inggris kita NOL BESAR. Kita akan sangat malu, dan siap-siap untuk ditolak dan tidak dibutuhkan oleh dunia kerja lagi  mungkin. Inilah pentingnya mengasah kemampuan softskill selama masih kuliah dengan mengikuti berbagai aktivitas organisasi, training, seminar, workshop atau kegiatan-kegiatan pengasahan skill lainnya seperti kursus misalnya. Itulah sebenarnya alasan utama yang membuat banyak mahasiswa kita yang menjadi pengangguran atau sulit mendapatkan pekerjaan. Dunia kerja adalah dunia yang penuh kompetisi, maka sebelum kita terjun kesana maka rajin-rajinlah bagi kita untuk mengumpulkan bekal sebanyak mungkin, bekalnya adalah softskill. Kemampuan akademis kita selama di universitas mau tidak mau harus diimbangi dengan berbagai kemampuan softskill.

Saya yakin semua orang memiliki potensi yang sama, tinggal bagaimana kita mengasah potensi yang kita miliki adalah yang nantinya membedakannya. Jika mau maju, marilah kita mulai mempersiapkan bekal kita untuk menatap masa depan yang cerah dengan optimisme. Bekal yang cukup akan membuat kita untuk selalu percaya diri, siap, dan selalu berpikiran maju ke depan. Satu kata terakhir “Be Inspired or will be Expired ”

Belajar dari Korea Selatan selama Work Camp


Pada Januari 2011 yang lalu, aku berkesempatan menjadi leader dalam bilateral workcamp antara IIWC Indonesia dengan KNCU Korea Selatan. Peserta Indonesia yakni hanya aku, matsu (mahasiswa Undip sastra Jepang), dan Rina (Mahasiswa USM Psikologi). Sedangkan peserta Korea Selatan berjumlah sepuluh orang, empat perempuan dan enam laki-laki. Mereka semua adalah orang-orang yang terpilih melalui seleksi yang diadakan oleh Universitas mreka yaitu Hongik University di Seoul Korea Selatan. Seperti yang saya jelaskan sebelum-sebelumnya bahwa aktivitas workcamp adalah semacam KKN tapi lingkupnya yang lebih luas karena melibatkan pihak-pihak dari luar negeri disamping jangka waktunya yang lebih pendek yakni dua minggu saja.

Selama hidup dua minggu dengan mereka, akupun telah melakukan berbagai macam hal bersama, dan seringkali aku sharing dengan mereka tentang studi maupun membandingkan kehidupan di Indonesia dan Korea Selatan. Selain itu, akupun sering mengamati tingkah-laku atau kebiasaan mereka dan seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan menjejali pikiranku. Kesan selama hidup dengan orang Korea Selatan adalah mereka sangat sopan sekali dan sangat mudah mengucapkan kata-kata “maaf”. Yang saya suka dari mereka adalah walaupun mereka dari Negara maju, tapi mereka tidak pernah sama sekali merendahkan Negara Indonesia yang kondisinya masih tertinggal. Mereka adalah tipe orang-orang yang sangat ulet dan pekerja keras. Kerasnya mereka bekerja bahkan tidak terlalu melihat waktu. Seringkali saya melihat mereka tidur larut malam sekali karena mereka perlu berdiskusi dahulu secara matang untuk kegiatan-kegiatan esok hari. Ketika saya Tanya kenapa perlu melakukan itu, secara spontan dijawab “Ya, karena kami harus bisa memberikan yang terbaik dan kami harus selalu siap”. Bahkan ketika ada malam pertukaran budaya, mereka menghabiskan waktu yang sangat lama sekali untuk penampilan mereka. Itu dijawabnya karena orang Korea Selatan harus tampil perfect dalam setiap performance mereka. Makanya penting sekali bagi orang Korea Selatan untuk mengadakan persiapan dalam jangka waktu yang cukup lama untuk berlatih agar bisa memberikan penampilan terbaik mereka.

Orang Korea Selatan adalah tipikal orang yang sangat kompetitif,sejak lahir mereka dibiasakan hidup untuk berkompetisi dan menjadi yang terbaik diantara yang lain. Mereka sadar bahwa Negara mereka miskin SDA, makanya satu-satunya sumber penghidupan Korea Selatan selatan adalah dari kecerdasan intelektual orang-orangnya. Hidup di Korea Selatan Selatan sama sekali berbeda dengan di Negara kota. Orang Korea Selatan menghabiskan hari-harinya dengan belajar, belajar , dan belajar. Mereka biasanya memulai waktu belajarnya di sekolah mulai jam 8 pagi sampai 4 atau 5 sore. Kemudian, mereka melanjutkan belajar lagi dengan les tambahan oleh sekolah tiga sampai empat jam. Ya, sekolah-sekolah di Korea Selatan diwajibkan untuk memberikan les tambahan setelah jam sekolah berakhir. Setelah itu, pendidikan mereka lanjutkan dengan pendidikan non formal seperti mengikuti kursus musik, kursus, menari, atau yang lainnya. Kemudian setelah sampai di rumah, guru les privat mereka telah menunggu untuk memberikan bimbingan belajar bagi mereka. Tidak heran mereka harus tidur diatas jam 12 malam karena kesibukan mereka untuk belajar, belajar, dan belajar. Jadi, pendidikan dan belajar bagi orang Korea Selatan sudah menjadi nafas kehidupan bagi mereka. Jadi maju-tidaknya Negara ini akan ditentukan oleh orang-orang di dalam Negara itu sendiri. Sudah semestinya fighting spirit orang-orang Korea Selatan kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita mampu menjadi pribadi yang unggul.

Kamis, 07 April 2011

Pengalaman Seleksi Mawapres Fisip Undip


Waktu itu (pertengahan maret 2011) aku melihat ada info tentang pendaftaran mawapres tingkat jurusanku yakni jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisip- Undip. Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk mendaftar karena tahun kemarin aku juga tidak ikut mendaftar. Tapi ketika aku memasuki ruang jurusan, salah satu dosen memanggilku dan menanyakan tentang IPK-ku, sontak saja aku  menjawab “3,82 Bu”. Sesaat setelah itu, Ibu itu (Bu Rina) menyuruhku kenapa tidak ikut saja untuk seleksi mawapres, kan dimanfaatin IPK yang bagus. Sudah kemana-mana tapi di dalam kampus sendiri tidak berbuat apa-apa. Ya sih, sebelumnya aku udah pernah ikut seminar ke Kamboja dan terakhir mengikuti workcamp di Belanda. Aku memang sangat suka sekali dengan dunia internasional, it’s full of fun inside !!. Well, namun ketertarikanku pada dunia akademis seperti lomba karya ilmiah atau esay dan yang lainnya sangatlah kurang. Entahlah, aku selalu merasa less interested..

Kembali pada masalah pendaftaran mawapres, karena hanya tiga orang saja yang mendaftar di jurusanku akhirnya kita bertiga langsung dikirim untuk mewakili jurusan di seleksi tingkat Fakultas. Ini merupakan pengalaman pertamaku ikut mawapres dan juga yang lainnya. Setelah beberapa hari, aku mendapat info untuk hadir dalam ruang aula fisip dalam proses seleksi mawapres. Dengan meminjam jas almamater temanku, aku berangkat (maklum jas almamaterku sudah lama dihilangkan oleh salah satu temanku). Di aula, tempat seleksi diatur sedemikian rupa menjadi empat pos yakni pos karya tulis ilmiah, pos bahasa inggris, pos kepribadian, dan pos kegiatan ekstra-kulikuler. Selain S-1 ternyata seleksi juga dibarenkan dengan D-3. Dari S-1 ada 11 orang mahasiswa, masing-masing jurusan (empat jurusan) mengirimkan tiga orang mahasiswanya kecuali ada salah satu jurusan yang mengirimkan hanya dua orang. Untuk D-3  jumlah mahasiswanya mungkin sekitar 10-12 orang.

Setelah cukup lama menunggu, pertama kami mendapat arahan singkat dari Pak Handoyo (PD 3 Fisip). Beliau member semangat pada kami semua bahwa dalam kompetisi jangan takut kalah yang penting berikan semaksimal mungkin dari diri kita. Ada hal yang menarik diutarakan beliau bahwa mawapres fisip selalu dilirik oleh fakultas-fakultas yang lain karena sudah sejak lama mawapres fisip mampu menjadi juara pertama tingkat universitas dan beberapa diantaranya telah menjadi juara nasional, tentunya ini sangat membangggakan bagi Undip.Setelah mendengar arahan dan nasehat pak Hand, aku pun hanya berdoa dan berusaha untuk memberikan semaksimal mungkin semampu aku.

Namaku pertama kali dipanggil untuk masuk dalam pos bahasa inggris, namun karena penguji belum siap maka akupun disuruh kembali ke tempat duduk dan menunggu untuk dipanggil. Namun setelah lama menunggu akupun tidak kunjung dipanggil sementara yang lainnya sudah dipanggil lebih dulu. Ternyata setelah aku Tanya bahwa petugas bagian sirkulasi lupa atas namaku. Namun sesaat setelah itu aku kemudian dipanggil lagi, tapi untuk memasuki pos yang lain yakni pos karya tulis ilmiah. Dalam pos ini aku Cuma dikasih waktu lima menit untuk presentasi, bagi aku ini adalah waktu yang sangat singkat. Setelah selesai presentasi, akupun diberi beberapa pertanyaan dan alhamdulilah semua pertanyaan dapat aku jawab dengan tenang dan lancar..Thanks God. Karya tulis yang aku angkat adalah tema yang berkaitan dengan wilayah pasca konflik dengan judul Upaya Peacebuilding Anak-anak Ambon pascakonflik dan Kekerasan Ambon Tahun 1999 melalui Children Newspaper Program. Menurutku ini adalah setudi yang unik karena masih merupakan hal yang sangat baru di Indonesia dan mampu menjadi solusi kreatif bagi permasalahan Indonesia yang rentan terhadap berbagai konflik dan kekerasan sosial yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Lanjut kemudian aku dipanggil lagi untuk memasuki pos ke-organisasian mahasiswa atau ekstrakulikuler. Disini, aku hanya disuruh menunjukkan berbagai bukti atau sertifikat semua kegiatan kemahasiswaan maupun kulikuler yang telah aku lakukan selama ini. Untungnya dalam cukup banyak sertifikat ada dua yang pernah aku lakukan di luar negeri yakni Kamboja dan Belanda. Dibanding yang lain, sertifikat yang aku kumpulkan cukup banyak karena aku sudah rajin mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kulikuler sejak awal masuk kuliah hingga saat ini. Dalam pos ini, sebenarnya adalah pendataan setiap sertifikat yang aku miliki, cukup lama aku bertengger di pos tersebut.

Lalu, pos selanjutnya adalah pos kepribadian. Disini, aku mulai disuruh untuk mengenalkan siapa diri aku dan semakin jauh diberondong dengan berbagai pertanyaan kritis tentang kelemahan, kelebihan, maupun kegagalan dalam hidupku. Sebenarnya pertanyaan ini terdengar mudah tapi sebenarnya cukup sulit untuk dijawab. Menurutku semua jawaban yang aku ajukan adalah benar, karena itu semua adalah pertanyaan relative. Yang terpenting adalah kejujuran dan sikap tenang yang aku tunjukkan. Perlu diketahui bahwa dalam pos kepribadian, penguji juga menanyakan tentang visi ke depan kita mau kemana dan ingin menjadi apa. Dari situ akan dapat diketahui apakah kita seorang yang visioner atau bukan.

Pos terakhir adalah pos bahasa inggris. Pos yang sebenarnya menjadi pos pertama aku malah menjadi pos terakhir aku dan aku jugalah kontestan terakhir dalam pos ini. Di pos ini aku merasa cukup relaks dan optimis karena sebenarnya aku sudah cukup terbiasa bicara bahasa inggris. Yah, itu semua karena pengalaman aku yang cukup lama terjun dalam dunia international voluntary service di LSM IIWC selama lebih dari dua tahun. Selama aku berkarya di sana, aku sering ketemu dengan relawan-relawan asing dan tentunya mengasah aku untuk selalu mempergunakan bahasa inggris dalam berkomunikasi. Dalam pos ini, aku pertama disuruh untuk perkenalan diri, kemudian dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan tentang kehidupan aku atau mungkin akan ditanya tentang isu-isu terhangat saat ini. Dan terakhir, aku disuruh menceritakan tentang karya tulisku dalam bahasa inggris. Lega rasanya setelah melewati semua pos.

Sehari setelah seleksi mawapres Fisip, aku terkejut ketika beberapa dosen di ruang jurusan aku mengucapkan ucapan selamat atas terpilihnya aku menjadi juara satu mawapres Fisip. Aku setengah tidak percaya karena pengumuman resmi belum ada. Ternyata, dua dosenku yang menjadi penguji kemarin telah mendapatkan hasilnya dalam sidang pleno. Akupun merasa senang pada akhirnya tapi masih setengah percaya karena aku tidak ada gambaran sebelumnya akan menempati posisi satu. Yah, Sujud syukur akhirnya aku limpahkan pada Kehadirat Tuhan YME atas segala rencana besarnya terhadapku. Aku merasa bahwa dibalik tertundanya kelulusanku ada sesuatu yang besar menantiku. Dari situlah aku mulai belajar tentang hikmah-hikmah yang aku dapatkan dalam sebuah ketertundaan atau bahkan kegagalan. Aku sekarang yakin bahwa Tuhan punya selalu rencana besar dan terbaik buat diriku. Semenjak aku memenangkan mawapres Fisip, gairahku untuk terus maju dan berkarya menjadi semakin meningkat. Sekarang aku tidak takut lagi akan sebuah kompetisi, malahan sekarang aku menyesal telah meninggalkan banyak sekali kompetisi yang seharusnya bisa membawaku lebih berprestasi sejak aku masuk kuliah sampai detik sebelum aku memutuskan ikut mawapres. Untuk rasa terima kasih ini pertama aku tujukan kepada Ibu Rina Martini selaku skretaris jurusan ilmu pemerintahan Fisip Undip yang telah menjerumuskan aku untuk lebih berprestasi. Bagi aku sekarang adalah kompetisi bukanlah antara menang dan kalah tapi lebih penting adalah bagaimana kita memaksimalkan potensi kita dan belajar dari setiap proses yang kita lalui baik sebelum maupun ketika kompetisi dimulai. Sebagai mahluk pembelajar sudah sepatutnya kita mulai untuk tidak takut lagi mengikuti ajang-ajang kompetisi  demi mengejar ketertinggalan kita dari saudara-saudara kita di Negara maju. Tidak akan ada Negara yang maju tanpa adanya semangat kompetisi diantara warga negaranya. Go ahead !!!!

Pengalaman Seleksi Mawapres Fisip Undip


Waktu itu (pertengahan maret 2011) aku melihat ada info tentang pendaftaran mawapres tingkat jurusanku yakni jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisip- Undip. Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk mendaftar karena tahun kemarin aku juga tidak ikut mendaftar. Tapi ketika aku memasuki ruang jurusan, salah satu dosen memanggilku dan menanyakan tentang IPK-ku, sontak saja aku  menjawab “3,82 Bu”. Sesaat setelah itu, Ibu itu (Bu Rina) menyuruhku kenapa tidak ikut saja untuk seleksi mawapres, kan dimanfaatin IPK yang bagus. Sudah kemana-mana tapi di dalam kampus sendiri tidak berbuat apa-apa. Ya sih, sebelumnya aku udah pernah ikut seminar ke Kamboja dan terakhir mengikuti workcamp di Belanda. Aku memang sangat suka sekali dengan dunia internasional, it’s full of fun inside !!. Well, namun ketertarikanku pada dunia akademis seperti lomba karya ilmiah atau esay dan yang lainnya sangatlah kurang. Entahlah, aku selalu merasa less interested..

Kembali pada masalah pendaftaran mawapres, karena hanya tiga orang saja yang mendaftar di jurusanku akhirnya kita bertiga langsung dikirim untuk mewakili jurusan di seleksi tingkat Fakultas. Ini merupakan pengalaman pertamaku ikut mawapres dan juga yang lainnya. Setelah beberapa hari, aku mendapat info untuk hadir dalam ruang aula fisip dalam proses seleksi mawapres. Dengan meminjam jas almamater temanku, aku berangkat (maklum jas almamaterku sudah lama dihilangkan oleh salah satu temanku). Di aula, tempat seleksi diatur sedemikian rupa menjadi empat pos yakni pos karya tulis ilmiah, pos bahasa inggris, pos kepribadian, dan pos kegiatan ekstra-kulikuler. Selain S-1 ternyata seleksi juga dibarenkan dengan D-3. Dari S-1 ada 11 orang mahasiswa, masing-masing jurusan (empat jurusan) mengirimkan tiga orang mahasiswanya kecuali ada salah satu jurusan yang mengirimkan hanya dua orang. Untuk D-3  jumlah mahasiswanya mungkin sekitar 10-12 orang.

Setelah cukup lama menunggu, pertama kami mendapat arahan singkat dari Pak Handoyo (PD 3 Fisip). Beliau member semangat pada kami semua bahwa dalam kompetisi jangan takut kalah yang penting berikan semaksimal mungkin dari diri kita. Ada hal yang menarik diutarakan beliau bahwa mawapres fisip selalu dilirik oleh fakultas-fakultas yang lain karena sudah sejak lama mawapres fisip mampu menjadi juara pertama tingkat universitas dan beberapa diantaranya telah menjadi juara nasional, tentunya ini sangat membangggakan bagi Undip.Setelah mendengar arahan dan nasehat pak Hand, aku pun hanya berdoa dan berusaha untuk memberikan semaksimal mungkin semampu aku.

Namaku pertama kali dipanggil untuk masuk dalam pos bahasa inggris, namun karena penguji belum siap maka akupun disuruh kembali ke tempat duduk dan menunggu untuk dipanggil. Namun setelah lama menunggu akupun tidak kunjung dipanggil sementara yang lainnya sudah dipanggil lebih dulu. Ternyata setelah aku Tanya bahwa petugas bagian sirkulasi lupa atas namaku. Namun sesaat setelah itu aku kemudian dipanggil lagi, tapi untuk memasuki pos yang lain yakni pos karya tulis ilmiah. Dalam pos ini aku Cuma dikasih waktu lima menit untuk presentasi, bagi aku ini adalah waktu yang sangat singkat. Setelah selesai presentasi, akupun diberi beberapa pertanyaan dan alhamdulilah semua pertanyaan dapat aku jawab dengan tenang dan lancar..Thanks God. Karya tulis yang aku angkat adalah tema yang berkaitan dengan wilayah pasca konflik dengan judul Upaya Peacebuilding Anak-anak Ambon pascakonflik dan Kekerasan Ambon Tahun 1999 melalui Children Newspaper Program. Menurutku ini adalah setudi yang unik karena masih merupakan hal yang sangat baru di Indonesia dan mampu menjadi solusi kreatif bagi permasalahan Indonesia yang rentan terhadap berbagai konflik dan kekerasan sosial yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Lanjut kemudian aku dipanggil lagi untuk memasuki pos ke-organisasian mahasiswa atau ekstrakulikuler. Disini, aku hanya disuruh menunjukkan berbagai bukti atau sertifikat semua kegiatan kemahasiswaan maupun kulikuler yang telah aku lakukan selama ini. Untungnya dalam cukup banyak sertifikat ada dua yang pernah aku lakukan di luar negeri yakni Kamboja dan Belanda. Dibanding yang lain, sertifikat yang aku kumpulkan cukup banyak karena aku sudah rajin mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kulikuler sejak awal masuk kuliah hingga saat ini. Dalam pos ini, sebenarnya adalah pendataan setiap sertifikat yang aku miliki, cukup lama aku bertengger di pos tersebut.

Lalu, pos selanjutnya adalah pos kepribadian. Disini, aku mulai disuruh untuk mengenalkan siapa diri aku dan semakin jauh diberondong dengan berbagai pertanyaan kritis tentang kelemahan, kelebihan, maupun kegagalan dalam hidupku. Sebenarnya pertanyaan ini terdengar mudah tapi sebenarnya cukup sulit untuk dijawab. Menurutku semua jawaban yang aku ajukan adalah benar, karena itu semua adalah pertanyaan relative. Yang terpenting adalah kejujuran dan sikap tenang yang aku tunjukkan. Perlu diketahui bahwa dalam pos kepribadian, penguji juga menanyakan tentang visi ke depan kita mau kemana dan ingin menjadi apa. Dari situ akan dapat diketahui apakah kita seorang yang visioner atau bukan.

Pos terakhir adalah pos bahasa inggris. Pos yang sebenarnya menjadi pos pertama aku malah menjadi pos terakhir aku dan aku jugalah kontestan terakhir dalam pos ini. Di pos ini aku merasa cukup relaks dan optimis karena sebenarnya aku sudah cukup terbiasa bicara bahasa inggris. Yah, itu semua karena pengalaman aku yang cukup lama terjun dalam dunia international voluntary service di LSM IIWC selama lebih dari dua tahun. Selama aku berkarya di sana, aku sering ketemu dengan relawan-relawan asing dan tentunya mengasah aku untuk selalu mempergunakan bahasa inggris dalam berkomunikasi. Dalam pos ini, aku pertama disuruh untuk perkenalan diri, kemudian dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan tentang kehidupan aku atau mungkin akan ditanya tentang isu-isu terhangat saat ini. Dan terakhir, aku disuruh menceritakan tentang karya tulisku dalam bahasa inggris. Lega rasanya setelah melewati semua pos.

Sehari setelah seleksi mawapres Fisip, aku terkejut ketika beberapa dosen di ruang jurusan aku mengucapkan ucapan selamat atas terpilihnya aku menjadi juara satu mawapres Fisip. Aku setengah tidak percaya karena pengumuman resmi belum ada. Ternyata, dua dosenku yang menjadi penguji kemarin telah mendapatkan hasilnya dalam sidang pleno. Akupun merasa senang pada akhirnya tapi masih setengah percaya karena aku tidak ada gambaran sebelumnya akan menempati posisi satu. Yah, Sujud syukur akhirnya aku limpahkan pada Kehadirat Tuhan YME atas segala rencana besarnya terhadapku. Aku merasa bahwa dibalik tertundanya kelulusanku ada sesuatu yang besar menantiku. Dari situlah aku mulai belajar tentang hikmah-hikmah yang aku dapatkan dalam sebuah ketertundaan atau bahkan kegagalan. Aku sekarang yakin bahwa Tuhan punya selalu rencana besar dan terbaik buat diriku. Semenjak aku memenangkan mawapres Fisip, gairahku untuk terus maju dan berkarya menjadi semakin meningkat. Sekarang aku tidak takut lagi akan sebuah kompetisi, malahan sekarang aku menyesal telah meninggalkan banyak sekali kompetisi yang seharusnya bisa membawaku lebih berprestasi sejak aku masuk kuliah sampai detik sebelum aku memutuskan ikut mawapres. Untuk rasa terima kasih ini pertama aku tujukan kepada Ibu Rina Martini selaku skretaris jurusan ilmu pemerintahan Fisip Undip yang telah menjerumuskan aku untuk lebih berprestasi. Bagi aku sekarang adalah kompetisi bukanlah antara menang dan kalah tapi lebih penting adalah bagaimana kita memaksimalkan potensi kita dan belajar dari setiap proses yang kita lalui baik sebelum maupun ketika kompetisi dimulai. Sebagai mahluk pembelajar sudah sepatutnya kita mulai untuk tidak takut lagi mengikuti ajang-ajang kompetisi  demi mengejar ketertinggalan kita dari saudara-saudara kita di Negara maju. Tidak akan ada Negara yang maju tanpa adanya semangat kompetisi diantara warga negaranya. Go ahead !!!!

Rabu, 06 April 2011

Riwayat Hidupku


Dilahirkan pada tanggal 1 januari 1989, sekarang menginjak umur 22 tahun. Alamat rumah di Desa Dempet rt 02, rw 02, Kec. Dempet, Kab . Demak. Anak ke-2 dari dari empat bersaudara. Kakak sudah dan menikah, sekarang kerja di perantauan (Malaysia). Adik dua-duanya perempuan. Adik pertama bernama Ria dhul Khasanah (19 tahun), setelah lulus dari SMK dan pondok pesantren 2010, Ria sekarang bekerja di salah satu pabrik di Semarang / PT.SAMI milik pengusaha Jepang. Adik tidak kuliah karena keterbatasan biaya orang tua. Adik kedua, Nurul Maulidiyah (14 tahun) berada di SMP kelas dua. Ayah  saya bernama Suratman (55 tahun), bekerja menjadi pegawai swasta dan sekaligus bertani. Ibu, Zuhrifah (50 tahun) bekerja sebagai petani. Sejak kecil kehidupan saya tidak terlepas dari kegiatan pertanian karena hidup di daerah pedesaan dimana sebagian besar masyarakat bekerja di sector pertanian. Jadi, sejak kecil sudah sering ke sawah membantu orang tua dan sering bermain dengan teman sebaya di sawah mencari serangga, ikan, atau mandi di sungai. Karena telah merasakan betapa beratnya bekerja menjadi petani, panas , gatal, dan upah yang tidak besar membuat saya bercita-cita kuliah dan bercita-cita untuk tidak bekerja sebagai petani selayaknya orang tua atau masyarakat di sekitar saya. Semangat saya untuk berpendidikan tinggi selalu didukung orang tua khususnya ayah saya. Walaupun kedua orang tua saya SD saja tidak lulus, namun Ayah saya berani membiayai saya sampai kuliah. Menurut saya ini adalah sebuah tindakan yang berani dan nekat, karena sebagian besar anak-anak muda di lingkungan kampong saya, hanya lulus sampai SMP atau mentok SMA. Hanya sekitar 5 orang saja yang mengeyam kuliah, itu toh karena orang tua mereka adalah orang tua yang tergolong mampu dalam segi ekonomi.  Well, kakak saya (Muhtar, 28 tahun) juga sama dengan warga di kampong saya, sekolah hanya sampai SMK dan setelah itu bekerja (pekerja berat).

Memang saya merasa berbeda dengan yang lain, walaupun saya terlahir dalam sebuah lingkungan yang tidak mensupport adanya pendidikan tinggi, saya malah terpacu untuk terus berpendidikan setinggi mungkin dan membuktikan bahwa apa yang selalu menjadi keyakinan warga di kampong saya tentang pentingnya pendidikan adalah salah. Pernah, saya dicemooh salah satu warga “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh kalau kerja malah bisa menghasilkan duit lebih cepat, itu lihat saja anak saya Cuma SMP sekarang jadi pengusaha maju”. Kata-kata itu sangat menusuk saya, tapi itulah hidup bahwa orang tidak akan percaya jika belum ada buktinya. Nah, apa yang diutarakan tetangga saya itu adalah representasi sebuah konstruksi sosial di kampong saya atas nilai sebuah pendidikan. Orang masih beranggapan bahwa kuliah hanya akan menghabiskan duit, sedangkan hasilnya masih menjadi pertanyaan karena banyak juga mehasiswa yang menjadi pengangguran. Bagi saya, itu adalah persepsi yang sangat salah kaprah dan dari diri sayalah saya akan membuktikan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang cerah.

Jika bicara tentang riwayat pendidikan saya, tidak ada yang wah kecuali mungkin SMA dan Universitas saat ini. Pendidikan TK saya dapatkan di TK Pertiwi yang cukup terkenal di desa saya karena hanya ada dua waktu itu. Kemudian, lanjut ke SDN Dempet satu. SD saya ini dikenal sebagai SD terfavorit se-Kecamatan saya. Kemudian, SMP saya habiskan di MTS Nurul Huda Dempet yang berstatus sekolah swasta. Waktu saya di SMP, adalah masa-masa tersulit dalam kehidupan keluarga saya karena bapak saya selingkuh dengan wanita lain, dan kasus ini membuat keluarga saya berantakan dan kedua orang tua saya hampir diujung perceraian. Lanjut, untuk SMA saya habiskan di SMAN 1 Demak. Masuk ke SMA ini merupakan sebuah kebanggaan karena ini adalah SMA terfavorit dan terbaik di Kabupaten Demak. Sebenarnya, ketika itu bapak saya menginginkan saya untuk sekolah di SMK yaitu SMK Pembangunan. Ketika saya melihat-lihat pendaftaran disana dan melihat jurusan yang ada, semuanya serba teknik, dan saya tidak suka dengan dunia teknik. Kemudian, saya menolak dan memilih untuk sekolah di SMA. Prestasi akademik saya mulai muncul ketika saya di bangku kelas tiga SD. Waktu itu saya mendapat rangking 10, untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Lalu, seiring dengan kenaikan kelas, saya mendapat peringkat 6,5,4,3, dan terakhir 2. Semenjak saat itu saya menjadi kebanggan orang tua khususnya ayah saya yang memang menyukai dunia pendidikan. Kemudian, ketika saya di SMP, kelas satu saya mendapat rangking 1, sementara kelas dua dan tiga karena di kelas favorit saya mendapat rangking dua. Ketika, saya di SMP saya pernah diikutkan dalam kompetisi cerdas cermat tingkat sekolah, dan tim sayalah yang menang.Ketika, SMA kelas satu saya mendapat peringkat 6, dan ketika kelas 2 dan 3 yaitu di kelas IPS saya mendapat rangking 1 terus. Alasan saya memilih IPS adalah saya lemah dalam hal hitung-menghitung dan saya sangat jago dalam mengahafal. Jadi, ketika ada ujian semester satu sampai empat buku saya hafalkan hanya dalam waktu satu hari satu malam. Yah, system belajar saya memang SKS (system kebut semalam). Walaupun saya selalu mendapat peringkat di sekolah namun saya tidak pernah dipaksa orang tua untuk rajin belajar. Ketika belajar, saya melakukannya selalu sendirian. Walaupun nilai akademik saya selalu bagus tapi saya sangat jarang sekali mengikuti kompetisi. Selain pas SMP waktu itu, di masa SMA saya hanya mengikuti lomba Mas dan Mbak Kartini. Dari SD sampai SMA, saya juga jarang sekali ikut kegiatan ekstra dan organisasi. Tercatat SD hanya mengikuti pramuka dan Drumband, SMP kosong, dan SMA juga kosong. Sebelum kuliah saya memang dikenal sebagai orang pemalu, dan pendiam kecuali setelah saya memasuki program IPS pas SMA.

 Ketika saya memasuki bangku kuliah, saya sangat semangat sekali untuk menjadi aktifis kampus sebagai pembalasan ketika masa SD sampai SMA dulu. Maka, selama kuliah saya mengikuti banyak sekali organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Diantaranya adalah HMJ Ilmu Pemerintahan (2 tahun), IMA S.C Undip (2 tahun), FKMM (1 tahun),HMI (1 tahun), Kammi (1 tahun). Dan sekarang saya masih aktif dalam LSM IIWC sejak tahun 2009 (2,5tahun). Selain mengikuti aktivitas organisasi, sejak semester awal saya juga sudah aktif mengikuti berbagai macam seminar, training, workshop, talkshow, dan sebagainya baik lokal maupun internasional. Hal yang membanggakan bagi saya adalah mengikuti seminar tentang sustainable development in Cultural Diversity di Pnom Penh – Cambodia pada February 2010. Dan terakhir saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di Eropa melalui program Exchange Volunteer antara Indonesia (IIWC) dan Belanda (SIW). Saya di Kamboja selama dua minggu. Minggu pertama adalah acara seminar full dimana seminar ini mempertemukan sekitar 35 pemuda dari Asia dan Eropa untuk berdiskusi tentang sustainable development dalam keragaman budaya. 3 hari setelahnya saya mengikuti program mini workcamp di Chambok Village yang merupakan salah satu eco-tourism di Kamboja. Masyarakat di Chambok sangat berperan sekali dalam kepariwisataan disana yakni dengan menyediakan homestay bagi pengungjung, membentuk community garden, penjagaan hutan dari illegal logging dan pembersihan sampah-sampah di air terjun secara bergiliran. Kemudian, perjalanan saya dilanjutkan dengan study visit ke US Embassy di Pnom Penh. Kalau melihat kota Pnom Penh, kotanya masih sangat sederhana dan Semarang jauh lebih bagus dan modern.Setelah itu, saya berwisata ke Angkor Wat Temple yang sekarang menjadi sengketa antara Kamboja vs Thailand. Sebelum ke Kamboja, sebenarnya saya melancong dulu ke Malaysia dan Thailand karena harus transit dulu disana. Dengan tidak adanya visa yang harus dibayar, maka saya manfaatkan sekalian untuk berjalan-jalan melihat Negara tetangga. Dibandingkan dengan Jakarta, ternyata Kuala Lumpur dan Bangkok lebih bersih dan tertata.

Selanjutnya, pengalaman kedua saya di luar negeri adalah di negeri yang dulunya menjajah bumi pertiwi kita yaitu Belanda. Di Belanda saya menghabiskan waktu selama satu bulan yakni akhir Juli sampai Agustus. Ketika saya sampai di Belanda, saya merasa sangat kagum dengan segala yang ada disana karena segala sesuatunya memang beda. Ketika hari-hari pertama saya disana, saya mengalami kesulitan dalam hal makanan karena saya tidak suka makan roti dan keju, tapi bagi orang belanda hot meal hanya disajikan pada waktu dinner. Akhirnya, setelah tiga hari saya bisa mulai menikmati makanan roti dan keju saya di Belanda. Selama disana saya mengikuti dua kegiatan international workcamp yakni Asylum Seeker Centre International Workcamp di Winterswijk dan Emmaus Parkwijk International Workcamp di Utrecht City. International workcamp adalah kegiatan kerelawanan internasional yang mempertemukan pemuda-pemuda dari berbagai Negara untuk hidup dan bekerja bersama-sama dengan penduduk/komunitas lokal untuk mengatasi suatu isu yang berkembang di masyarakat. Walaupun saya sudah sering mengikuti workcamp di Indonesia, namun pengalaman workcamp di Belanda sungguh sangat mengesankan. Di Belanda, saya merasa aman, dan nyaman dan ingin sekali tinggal di sana dalam jangka waktu lama. Keteraturan dalam segala hal kadang membuat saya belanda seperti negeri dalam dongeng. Yang paling mengherankan bagi saya adalah hampir semua orang belanda bersepeda, konon jumlah sepeda di belanda lebih banyak daripada jumlah penduduknya. Belanda memang hanya berpenduduk sekitar 15 juta jiwa. 5 juta diantaranya adalah imigran dari Maroko, Afrika, Cina, Turki, Suriname, dan Indonesia tentunya. Ya, Indonesia khususnya orang-orang Ambon membentuk komunitas yang cukup besar disana dan banyak diantaranya kawin campur dengan warga belanda. Kegiatan saya selama di AZC Winterswijk adalah membuat summer activity untuk anak-anak para pencari suaka politik karena orang tua mereka tidak punya cukup dana untuk berlibur karena belum diperbolehkan bekerja di Belanda. Sedangkan di Emmaus Parkwijk Utrecht, saya membantu orang-orang Emmaus untuk mengumpulkan, menyortir, dan menjual barang-barang bekas. Nah, Emmaus adalah orang-orang yang mengalami masalah sosial masa lalu, kemudian  hidup, bekerja, dan tinggal serumah bersama  untuk belajar berkomunikasi dan bersosialisasi satu sama lainnya. Selain kedua kegiatan workcamp , saya juga mampir ke Rotterdam University karena saya punya teman yang kuliah disana. Di Universitas tersebut, saya diperkenalkan mengikuti kuliah dan ikut welcoming party untuk pembukaan semester. Selain itu saya juga sempat berkunjung ke salah satu keluarga Indonesia di Rotterdam yang telah menjadi warga Negara Belanda. Mereka dulunya adalah warga Indonesia yang mencari kerja ketika tahun 70-an. Di rumahnya, saya disuguhi berbagai macam masakan Indonesia seperti kolak, lumpia, lemper, dan sebagainya. Eh ternyata orang belanda sangat menyukai makanan Indonesia dimana kita bisa sangat mudah sekali menemukan kroket, dan sambal sate untuk French fries. Bahkan tidak sedikit supermarket yang menjual produk-produk makanan Indonesia.

Kembali ke masalah pendidikan, Saya pertama mendapat pendidikan bahasa inggris ketika berada di bangku SMP. Ketika pertama kali mendapat pelajaran bahasa inggris, saya sudah merasa ada ketertarikan yang tinggi. Kemudian, sewaktu di SMA, saya kursus bahasa inggris di LPK Kurnia Excellent Course yang merupakan salah satu kursus bahasa inggris ternama di Demak. Saya kursus sejak kelas satu semester dua sampai kelas saya lulus dari SMA. Dalam durasi yang lama belajar bahasa inggris di KEC, saya selalu menyempatkan waktu untuk ngobrol dengan teman-teman sekelas saya untuk berlatih bicara bahasa inggris. Jadi, semenjak itulah saya mulai bisa berbicara bahasa inggris walaupun tidak terlalu lancar. Kemudian, setelah saya bergabung dengan IIWC (Indonesia International WorkCamp) saya bertemu dengan banyak sekali orang-orang asing dan seiring dengan itu bahasa inggris saya meningkat karena saya aktif berkomunikasi dengan mereka. Di tengah kesibukan saya kuliah dan kegiatan organisasi, saya juga tidak kalah sibuk dengan bekerja part time untuk mencukupi kebutuhan saya sehari-hari. Saya pernah menjalani pekerjaan sebagai mentor les tambahan anak SD dan SMP dan sejak semester tiga saya sudah mulai menjadi surveyor atau pengumpul data dalam berbagai hal. Say pernah menjadi surveyor untuk pertamina tentang pelayanan SPBU se-Kota Semarang, survey kepuasan pelanggan IM3 wilayah Jepara  dan juga surveyor masalah pilkada dari para dosen. Dan dari semester awal sampai sekarang saya menjadi surveyor and petugas quick count tetap di LSI (Lembaga Survey Indonesia). LSI-lah yang paling saya senangi karena selain hasilnya mampu saya gunakan untuk uang saku saya selama perjalanan ke luar negeri, bekerja di LSI membuat saya banyak mobile ke berbagai wilayah di Jawa Tengah (Hampir semua kabupaten dan Kota), Sebagian Jogja dan Jawa Timur (Bojonegoro, Pacitan, Lamongan). Bekerja, tidak hanya mengajarkan saya tentang arti bekerja keras untuk mendapatkan peser demi peser uang, namun dengan bekerja saya dapat berlatih untuk hidup mandiri di tengah kondisi sebagian besar mahasiswa yang masih sangat dependen pada orang tua. Saya selalu merasa salut dengan teman-teman saya di Jepang, Korea, Eropa ataupun di berbagai belahan Negara maju lainnya bahwa kuliah sambil bekerja dapat membuat mereka menjadi mandiri dan matang dengan lebih cepat.  

Saya yang sekarang adalah Arwani yang (walaupun nama saya aneh tapi nama ini selalu membawa keberuntungan) optimis dengan masa depan cerah dan selalu semangat menatap kehidupan. Harapan saya adalah saya mampu menyekolahkan semua adik-adik saya untuk dapat melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya sampai ke universitas. Cita-cita saya adalah menjadi seorang diplomat atau seseorang yang bekerja di salah satu institusi atau organisasi internasional dimana saya menemukan dunia saya disitu.  Bagi saya tiap orang memiliki potensi yang sama, ini semua tergantung pada tiap-tiap individu untuk bagaimana mengelola potensi kita untuk menghasilkan suatu karya yang membanggakan. Setelah memenangkan mawapres Fisip ini saya menjadi lebih yakin bahwa sebenarnya sayamampu untuk berprestasi dan orang lainpun sebenarnya bisa jika mereka mau untuk mencoba meraihnya. Nah, mencoba adalah kata-kata yang perlu dicamkan baik-baik karena banyak orang yang berpotensi namun takut akan kompetisi. Di balik kegagalan sebenarnya adalah sebuah kesuksesan yang tertunda, semakin kita mencoba semakin kita tahu caranya untuk memenangkan sebuah kompetisi. Ini adalah sebuah curahan hati terdalam saya yang sebenarnya karna sebelum mawapres saya memang pribadi yang selalu takut untuk berkompetisi dan takut akan kegagalan, namun kompetisi mawapres mampu mengubahcara pandang saya akan makna kompetisi. Dalam sebuah kompetisi bagi saya poin plus yang kita dapatkan adalah proses ketika kita mengikuti sebuah kompetisi dan proses sewaktu kita melakukan persiapan. Dalam prose situ kita belajar tentang makan kehidupan tentang bagaimana untuk bersikap pantang menyerah, mempertahankan gejolak semangat, percaya diri, tanggung jawab dan masih banyak lainnya. Saya sangat berterima ksih sekali kepada smua pihak yang telah mendukung saya untuk menjadi yang terpilih sebagai mawapres fisip, walaupun saya sekarang mawapres fisip tapi saya harus tetap reandah hati. Tanggung jawab saya sekarang semakin besar untuk memberikan yang terbaik dalam mawapres tingkat universitas. Bagi saya kalah menang sama saja, tapi memberikan yang terbaik dari diri saya adalah sebuah tanggung jawab saya sebagai mawapres Fisip. Bagi yang lain, ingat jangan pernah takut akan kompetisi , kompetisi akan malah membuatmu menjadi seorang yang kuat dan membuat kita mengerti tentag makna sebuah perjuangan dalam hidup. Segala keterbatasan saya tidak akan manjadi pengahalang untuk berprestasi , yang sebenarnya penghalang untuk kita berani berprestasi adalah diri kita sendiri yakni mental tempe dan mental takut gagal. Semangat !!!!

More infos  just send email to  arwani.suratman@gmail.com

 

Minggu, 03 April 2011

Pengalaman Workcamp Pertamaku

“ Pengalaman Workcamp Pertamaku ”

Akhir tahun 2008, aku mulai mendaftar sebagai anggota Indonesia International WorkCamp atau biasa disingkat IIWC. IIWC adalah sebuah LSM yang bergerak dan focus pada kerelawanan internasional dengan dua kegiatan utama yakni workcamp dan Long middle term volunteering (LMTV). Nah, yang akan saya ceritakan adalah tentang workcamp pertamaku ketika menjadi bagian dari big family of IIWC. Sebenarnya, workcamp adalah sebuah aktivitas kerelawanan oleh pemuda-pemuda dari berbagai negara, hidup, dan bekerja bersama-sama dengan penduduk lokal sehingga terjadi sharing pengetahuan dan sharing budaya dalam upaya mengatasi sebuah isu permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Ada berbagai macam workcamp dan bermacam-macam tema yang diangkat.

Waktu itu bulan Januari, aku mengikuti training campleader  Spring 2009 yang diadakan oleh IIWC bertempat di Mangkang. Setelah training, aku ditempatkan untuk workcamp di Mangkang pada 27 Februari – 11 Maret 2009. Aku menjadi seorang co-leader dan campleaderku adalah Mualimah Hudatwi (nickname ; Ali). Aku memilih menjadi co-leader karena ini merupakan workcamp pertamaku dimana aku masih belum punya gambaran apa-apa tentang workcamp.

Well, workcamp pertamaku ini bernama “Mangkang International Spring WorkCamp with the theme about Environtmen and KIDS”, tapi walaupun namanya international namun participant yang terdaftar hanya empat orang Jepang. Mereka adalah Nana, Riko, Ayaka, dan Sri. Masing-masing dari mereka aku kasih nama jawa kuno sementara mereka memberikan nama Jepang pada aku  (Yoshio/ Komedian Jepang) dan Ali (Himawari). Sejak pertemuan pertama kali dengan mereka, aku sangat senang sekali secara aku akan hidup bareng dengan orang Jepang dan tinggal serumah selama dua minggu. Saat pertama kali,kita makan siang bersama dan aku membeli nasi ayam bungkus. Dengan herannya, mereka melihat-lihat dan memfoto sambil bertanya “Kok bungkusan makanan di Indonesia lucu ya”. “Ehm, itu baru makanan saja, masih banyak keanehan lain yang nantinya bakal kamu temui”, batinku. Pada awal-awal hidup dengan mereka, aku melihat banyak sekali keanehan pada diri mereka,  misal saja mandi tengah malam dan gosok gigi sambil nonton TV. Terusnya, pasta gigi mereka juga tidak berbusa seperti yang kita punya. Karena aku heran, maka akupun Tanya. Katanya itu adalah kebiasaan hidup orang Jepang (mandi malam ; mereka lakukan karena mereka memakai air hangat, gosok gigi jalan ; karena toilet tempat tinggal kita bau dan tidak ada wastafel).

Kehidupan kami selama workcamp sangat berwarna salah satunya adalah makanan. Kami memasak sendiri makanan selama workcamp, jadi salah satu keuntungan selama workcamp adalah mencicipi berbagai cemilan dan masakan Jepang. Tak kusangka mereka cukup lihai dalam memasak, yang saya ingat mereka memasak jaga bata, miso soup, martabak jepang, oseng-oseng jepang, onigiri, dan semacam sushi. Sebaliknya mereka juga aku kenalkan sama masakan Indonesia seperti mie godok, nasi goring, sambal tomat, sayur asem, dan bahkan masakan keong yang kita buru di sawah warga. Ya, Mangkang walaupun masuk wilayah kota Semarang, tapi suasana desa masih sangat kental dan terasa sekali. Banyak sawah, pohon, sungai, dan udaranya masih sejuk.

Apa sih yang sebenarnya kita lakukan dalam workcamp ?? Yup, aktivitas workcamp hampir bisa dikatakan seperti KKN oleh universitas. Selama workcamp, dalam setiap aktivitas kita melibatkan anak-anak dan warga sekitar. Selama workcamp di Mangkang, kita melakukan penanaman mangrove dan pohon mahoni, cooking exchange, mengajar anak-anak bahasa inggris dan kerajinan tangan, school visit, dan sebagainya. Selebihnya kita melakukan kegiatan-kegiatan menghabiskan waktu bersama seperti bermain dengan anak-anak, mencari keong di sawah, memancing kepiting, mengahdiri acara pernikahan, menangkap ikan dan kepiting di laut, berenang di tengah laut, membuat ketupat dan masih banyak pengalaman seru lainnya. Selama dua minggu workcamp kami ada sehari freeday dimana kami tidak beraktivitas dan kami menghabiskan waktu untuk berwisata ke Jogja dengan mengunjungi Candi Borobudur, Keraton Jogja,  Candi Prambanan, dan Malioboro.

Dari workcamp aku bisa katakana bahwa bahasa inggrisku semakin meningkat karena sejak bangun tidur sampai tidur lagi kita mau tidak mau harus berkomunikasi dalam bahasa inggris. Selain itu aku juga dapat bertukar pengalaman dan kebudayaan. Waktu pertama kali mereka melihat aku sholat, mereka dengan keheranan mengamati aku dan bertanya kemudian apa yang sebenarnya aku lakukan. Dan pembicaraan kami berlanjut pada masalah agama. Sebelum tidur, kami pun sering menghabiskan waktu untuk bertukar pengalaman tentang studi kita masing-masing dan pengalaman kerja. Aku sangat salut ketika mereka mengatakan bahwa hampir seluruh remaja Jepang sudah mulai bekerja dengan part-time. Makanya, tidak heran kalau Jepang bisa maju (aku pun merasa iri). Selain banyak pengalaman lainnya, tentunya aku semakin mengenal budaya dan adat Jepang sehingga aku punya pengetahuan tentang intercultural learning. Dari sini, aku bisa memahami bagaimana seharusnya menempatkan posisi  dan berkelakuan di depan mereka.  Dan terakhir, melalui workcamp aku tidak sadar bahwa aku telah menjadi seorang volunteer atau relawan, karena selama workcamp banyak sekali kegiatan-kegiatan sosial yang kami lakukan demi kehidupan masyarakat yang lebih baik di masa mendatang. Untuk itu, aku sangat berterima kasih sekali kepada IIWC (www.iiwcindonesia.wordpress.com) selaku penyelenggara utama workcamp di Indonesia. I do hope by sharing my workcamp experience, there will more people interested and finally decide to take part in workcamp. “ Individually we change ourself, together we can change the world”. Buka mata untuk melihat keindahan akan keragaman kehidupan dunia.

Minggu, 27 Maret 2011

Bangkitnya Rusia

 "Bangkitnya Rusia"

Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu perkembangan rusia saat ini, khususnya masa pasca runtuhnya era perang dingin dengan ditandainya pecahnya uni soviet sebagai adidaya blok timur. Rusia merupakan  motor penggerak uni soviet pada masa itu dengan pusatnya di Kremlin. Pasca perang dingin berakhir tahun 1990-an, Rusia semakin lama semakin mundur ke belakang dan jauh terlupakan oleh dunia.

Ketika rusia jatuh, ekonomi rusia sangat carut marut , dimana inflasi sangat tinggi, devisa minus, banyaknya pengangguran, kemiskinan meningkat pesat, dan bahkan pemerintah tidak mampu membayar pegawai maupun aparat pemerintahannya. Dengan arah reformasi yang dibawa oleh Michael Gorbachev, rusia berusaha mereformasi diri di berbagai bidang. Salah satu yang terpenting adalah reformasi ekonomi yakni ditandai dengan membuka rusia untuk pasar bebas. Pada waktu itu, Barat yang dikomandoi AS ikut serta dalam upaya reformasi ekonomi di rusia dengan menyiapkan IMF membantu menggelontorkan dana-dana utang. Dengan utangnya, secara tidak langsung IMF ikut campur tangan dalam pengelolaan ekonomi di Rusia. Privatisasi juga gencar dilakukan pada masa presiden Yeltsin setelah masa Gorbachev. Melalui privatisasi dan gelontoran dana utang IMF, rusia bukannya semakin beranjak dari kondisi kelamnya malah kondisi ekonomi rusia semakin parah dan menuju kearah collapse. Utang-utang IMF disalahgunakan oleh para oligarki dan privatisasi pun berhasil membuat para oligarki di rusia dan perusahaan-perusahaan multinasional menguasai asset-aset penting Negara seperti minyak dan gas. Padahal minyak dan gas merupakan tumpuan utama ekonomi rusia pada masa itu. Para analisis ekonomi banyak memperkirakan kalau rusia terus-terusan seperti itu, maka tidak lama lagi rusia akan bangkrut.

Baru setelah Yeltsin turun dan digantikan oleh Putin pada tahun 1998, Rusia mulai kembali menggeliat dan bangkit. Hal pertama yang dilakukan adalah menebas seluruh oligarki-oligarki nakal yang hanya mengeruk kekayaan untuk kepentingan pribadi. Akhirnya dengan bantuan eks KGB sebagai salah satu pendukungnya di pemerintahan, Putin mampu membersihkan rusia dari oligarki nakal dan mengembalikan asset-aset vital pemerintah yang telah diprivatisasi. Dengan segera cadangan devisa rusia pun terus melejit, hal ini dibarengi dengan upaya putin melunasi utang-utang IMF dan upaya tersebut akhirnya berhasil. Rusia yakin mampu bangkit dengan upaya sendiri tanpa campur tangan Negara lain. Cadangan devisa yang semakin tinggi juga digunakan oleh Negara untuk mengentaskan penduduk rusia dari kemiskinan, pengangguran, pembukaan lapangan , masalah sosial, pendidikan,dan sebagainya. Semakin lama rusia semakin bangkit dan terus menuju visi putin atas rusia yakni “The Great Russian”. Walaupun banyak pihak yang mengkritik dibawah putin rusia kurang demokratis, namun rakyat tidak terlalu memperdulikan hal tersebut. Rakyat Rusia tidak membutuhkan demokrasi kalau mereka saja tidak bisa makan, apa yang mereka butuhkan adalah kemakmuran dan kesejahteraan. Kepercayaan rakyat rusia terhadap Putin dan KGB pun terus meningkat seiring meingkatnya membaiknya kondisi rusia.

Tidak hanya di kebangkitan di dalam bidang ekonomi , bidang militer rusia pun semakin berbenah diri. Dahulu ketika rusia jatuh,  militer rusia semakin terkucilkan oleh dunia. Namun apa yang bisa kita lihat sekarang. Rusia semakin meningkatkan anggaran untuk militernya, dan rusia saat ini merupakan salah satu Negara pengekspor senjata dan peralatan militer dengan presentasi 30% untuk seluruh pasar dunia. Dengan menguatnya ekonomi dan militer rusia, rusia akhirnya mulai aktif kembali ke panggung internasional demi mengimbangi kekuataan unipolar AS yang sangat menghegemoni. Rusia dengan suara lantangnya berupaya mengajak Negara-negara lain untuk melakukan upaya perbaikan pada kondisi politik dunia, salah satunya di PBB. Rusia semakin gencar menjalin hubungan dengan Negara-negara lain, dengan Barat misalnya Rusia menjalin hubungan kedekatan dengan Inggris dan Perancis. Sementara di Asia, Rusia menggandeng raksasa-raksasa ekonomi seperti China, Jepang, dan India dan dengan dunia islam Rusia menggandeng iran, Indonesia, dan selalu lantang atas invasi atau intervensi militer AS ke Timur Tengah. Semua itu menunjukkan bahwa Rusia besar akan tampil dengan baju yang berbeda , yakni dengan misi perdamaian dengan seluruh Negara-negara di dunia. Dengan hanya kurun waktu 8 tahun (1999-2008), Rusia benar-benar mampu bangkit dengan sangat cepat dan bagi siapa saja yang mengetahuinya akan membuat kita terperangah. Ada learning poin yang bisa kita ketik disini untuk Indonesia bahwa jika ingin indonesi maju maka kita harus berdaulat dan berupaya memaksimalkan potensi kita sendiri tanpa campur tangan asing. Kondisi kita tidak jauh beda dengan rusia pada masa 1998 ketika kedua-duanya sama-sama jatuh. Baik Indonesia maupun Rusia pun memiliki kekayaan alam yang potensial yakni minyak dan gas. Demokrasi merupakan tool untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, tapi apa yang kita rasakan sampai sekarang adalah bahwa demokrasi yang kita rasakan hanya semu. Pemerintah masih saja terus-terusan sibuk mengurusi masalah politik, terkesan sekali bahwa masalah politik dan bagi-bagi kue kekuasaan lebih penting daripada menyelesaikan problema masyarakat. Rusia bangkit karena Putin berperan sebagai pemimpin yang visioner, dibantu dengan KGB yang memiliki kecintaan besar pada negaranya. Nah, disinilah titik poin masalah di negeri ini, pemimpin dan kelompok nasionalis. Siapa dan Kapan mereka akan muncul ke permukaan dan membawa perubahan Indonesia dari segala keterpurukan ini ?? lets see and wish for the best. We love you Indonesia.