Dilahirkan pada tanggal 1 januari 1989, sekarang menginjak umur 22 tahun. Alamat rumah di Desa Dempet rt 02, rw 02, Kec. Dempet, Kab . Demak. Anak ke-2 dari dari empat bersaudara. Kakak sudah dan menikah, sekarang kerja di perantauan (Malaysia). Adik dua-duanya perempuan. Adik pertama bernama Ria dhul Khasanah (19 tahun), setelah lulus dari SMK dan pondok pesantren 2010, Ria sekarang bekerja di salah satu pabrik di Semarang / PT.SAMI milik pengusaha Jepang. Adik tidak kuliah karena keterbatasan biaya orang tua. Adik kedua, Nurul Maulidiyah (14 tahun) berada di SMP kelas dua. Ayah saya bernama Suratman (55 tahun), bekerja menjadi pegawai swasta dan sekaligus bertani. Ibu, Zuhrifah (50 tahun) bekerja sebagai petani. Sejak kecil kehidupan saya tidak terlepas dari kegiatan pertanian karena hidup di daerah pedesaan dimana sebagian besar masyarakat bekerja di sector pertanian. Jadi, sejak kecil sudah sering ke sawah membantu orang tua dan sering bermain dengan teman sebaya di sawah mencari serangga, ikan, atau mandi di sungai. Karena telah merasakan betapa beratnya bekerja menjadi petani, panas , gatal, dan upah yang tidak besar membuat saya bercita-cita kuliah dan bercita-cita untuk tidak bekerja sebagai petani selayaknya orang tua atau masyarakat di sekitar saya. Semangat saya untuk berpendidikan tinggi selalu didukung orang tua khususnya ayah saya. Walaupun kedua orang tua saya SD saja tidak lulus, namun Ayah saya berani membiayai saya sampai kuliah. Menurut saya ini adalah sebuah tindakan yang berani dan nekat, karena sebagian besar anak-anak muda di lingkungan kampong saya, hanya lulus sampai SMP atau mentok SMA. Hanya sekitar 5 orang saja yang mengeyam kuliah, itu toh karena orang tua mereka adalah orang tua yang tergolong mampu dalam segi ekonomi. Well, kakak saya (Muhtar, 28 tahun) juga sama dengan warga di kampong saya, sekolah hanya sampai SMK dan setelah itu bekerja (pekerja berat).
Memang saya merasa berbeda dengan yang lain, walaupun saya terlahir dalam sebuah lingkungan yang tidak mensupport adanya pendidikan tinggi, saya malah terpacu untuk terus berpendidikan setinggi mungkin dan membuktikan bahwa apa yang selalu menjadi keyakinan warga di kampong saya tentang pentingnya pendidikan adalah salah. Pernah, saya dicemooh salah satu warga “Buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh kalau kerja malah bisa menghasilkan duit lebih cepat, itu lihat saja anak saya Cuma SMP sekarang jadi pengusaha maju”. Kata-kata itu sangat menusuk saya, tapi itulah hidup bahwa orang tidak akan percaya jika belum ada buktinya. Nah, apa yang diutarakan tetangga saya itu adalah representasi sebuah konstruksi sosial di kampong saya atas nilai sebuah pendidikan. Orang masih beranggapan bahwa kuliah hanya akan menghabiskan duit, sedangkan hasilnya masih menjadi pertanyaan karena banyak juga mehasiswa yang menjadi pengangguran. Bagi saya, itu adalah persepsi yang sangat salah kaprah dan dari diri sayalah saya akan membuktikan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang cerah.
Jika bicara tentang riwayat pendidikan saya, tidak ada yang wah kecuali mungkin SMA dan Universitas saat ini. Pendidikan TK saya dapatkan di TK Pertiwi yang cukup terkenal di desa saya karena hanya ada dua waktu itu. Kemudian, lanjut ke SDN Dempet satu. SD saya ini dikenal sebagai SD terfavorit se-Kecamatan saya. Kemudian, SMP saya habiskan di MTS Nurul Huda Dempet yang berstatus sekolah swasta. Waktu saya di SMP, adalah masa-masa tersulit dalam kehidupan keluarga saya karena bapak saya selingkuh dengan wanita lain, dan kasus ini membuat keluarga saya berantakan dan kedua orang tua saya hampir diujung perceraian. Lanjut, untuk SMA saya habiskan di SMAN 1 Demak. Masuk ke SMA ini merupakan sebuah kebanggaan karena ini adalah SMA terfavorit dan terbaik di Kabupaten Demak. Sebenarnya, ketika itu bapak saya menginginkan saya untuk sekolah di SMK yaitu SMK Pembangunan. Ketika saya melihat-lihat pendaftaran disana dan melihat jurusan yang ada, semuanya serba teknik, dan saya tidak suka dengan dunia teknik. Kemudian, saya menolak dan memilih untuk sekolah di SMA. Prestasi akademik saya mulai muncul ketika saya di bangku kelas tiga SD. Waktu itu saya mendapat rangking 10, untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Lalu, seiring dengan kenaikan kelas, saya mendapat peringkat 6,5,4,3, dan terakhir 2. Semenjak saat itu saya menjadi kebanggan orang tua khususnya ayah saya yang memang menyukai dunia pendidikan. Kemudian, ketika saya di SMP, kelas satu saya mendapat rangking 1, sementara kelas dua dan tiga karena di kelas favorit saya mendapat rangking dua. Ketika, saya di SMP saya pernah diikutkan dalam kompetisi cerdas cermat tingkat sekolah, dan tim sayalah yang menang.Ketika, SMA kelas satu saya mendapat peringkat 6, dan ketika kelas 2 dan 3 yaitu di kelas IPS saya mendapat rangking 1 terus. Alasan saya memilih IPS adalah saya lemah dalam hal hitung-menghitung dan saya sangat jago dalam mengahafal. Jadi, ketika ada ujian semester satu sampai empat buku saya hafalkan hanya dalam waktu satu hari satu malam. Yah, system belajar saya memang SKS (system kebut semalam). Walaupun saya selalu mendapat peringkat di sekolah namun saya tidak pernah dipaksa orang tua untuk rajin belajar. Ketika belajar, saya melakukannya selalu sendirian. Walaupun nilai akademik saya selalu bagus tapi saya sangat jarang sekali mengikuti kompetisi. Selain pas SMP waktu itu, di masa SMA saya hanya mengikuti lomba Mas dan Mbak Kartini. Dari SD sampai SMA, saya juga jarang sekali ikut kegiatan ekstra dan organisasi. Tercatat SD hanya mengikuti pramuka dan Drumband, SMP kosong, dan SMA juga kosong. Sebelum kuliah saya memang dikenal sebagai orang pemalu, dan pendiam kecuali setelah saya memasuki program IPS pas SMA.
Ketika saya memasuki bangku kuliah, saya sangat semangat sekali untuk menjadi aktifis kampus sebagai pembalasan ketika masa SD sampai SMA dulu. Maka, selama kuliah saya mengikuti banyak sekali organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Diantaranya adalah HMJ Ilmu Pemerintahan (2 tahun), IMA S.C Undip (2 tahun), FKMM (1 tahun),HMI (1 tahun), Kammi (1 tahun). Dan sekarang saya masih aktif dalam LSM IIWC sejak tahun 2009 (2,5tahun). Selain mengikuti aktivitas organisasi, sejak semester awal saya juga sudah aktif mengikuti berbagai macam seminar, training, workshop, talkshow, dan sebagainya baik lokal maupun internasional. Hal yang membanggakan bagi saya adalah mengikuti seminar tentang sustainable development in Cultural Diversity di Pnom Penh – Cambodia pada February 2010. Dan terakhir saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di Eropa melalui program Exchange Volunteer antara Indonesia (IIWC) dan Belanda (SIW). Saya di Kamboja selama dua minggu. Minggu pertama adalah acara seminar full dimana seminar ini mempertemukan sekitar 35 pemuda dari Asia dan Eropa untuk berdiskusi tentang sustainable development dalam keragaman budaya. 3 hari setelahnya saya mengikuti program mini workcamp di Chambok Village yang merupakan salah satu eco-tourism di Kamboja. Masyarakat di Chambok sangat berperan sekali dalam kepariwisataan disana yakni dengan menyediakan homestay bagi pengungjung, membentuk community garden, penjagaan hutan dari illegal logging dan pembersihan sampah-sampah di air terjun secara bergiliran. Kemudian, perjalanan saya dilanjutkan dengan study visit ke US Embassy di Pnom Penh. Kalau melihat kota Pnom Penh, kotanya masih sangat sederhana dan Semarang jauh lebih bagus dan modern.Setelah itu, saya berwisata ke Angkor Wat Temple yang sekarang menjadi sengketa antara Kamboja vs Thailand. Sebelum ke Kamboja, sebenarnya saya melancong dulu ke Malaysia dan Thailand karena harus transit dulu disana. Dengan tidak adanya visa yang harus dibayar, maka saya manfaatkan sekalian untuk berjalan-jalan melihat Negara tetangga. Dibandingkan dengan Jakarta, ternyata Kuala Lumpur dan Bangkok lebih bersih dan tertata.
Selanjutnya, pengalaman kedua saya di luar negeri adalah di negeri yang dulunya menjajah bumi pertiwi kita yaitu Belanda. Di Belanda saya menghabiskan waktu selama satu bulan yakni akhir Juli sampai Agustus. Ketika saya sampai di Belanda, saya merasa sangat kagum dengan segala yang ada disana karena segala sesuatunya memang beda. Ketika hari-hari pertama saya disana, saya mengalami kesulitan dalam hal makanan karena saya tidak suka makan roti dan keju, tapi bagi orang belanda hot meal hanya disajikan pada waktu dinner. Akhirnya, setelah tiga hari saya bisa mulai menikmati makanan roti dan keju saya di Belanda. Selama disana saya mengikuti dua kegiatan international workcamp yakni Asylum Seeker Centre International Workcamp di Winterswijk dan Emmaus Parkwijk International Workcamp di Utrecht City. International workcamp adalah kegiatan kerelawanan internasional yang mempertemukan pemuda-pemuda dari berbagai Negara untuk hidup dan bekerja bersama-sama dengan penduduk/komunitas lokal untuk mengatasi suatu isu yang berkembang di masyarakat. Walaupun saya sudah sering mengikuti workcamp di Indonesia, namun pengalaman workcamp di Belanda sungguh sangat mengesankan. Di Belanda, saya merasa aman, dan nyaman dan ingin sekali tinggal di sana dalam jangka waktu lama. Keteraturan dalam segala hal kadang membuat saya belanda seperti negeri dalam dongeng. Yang paling mengherankan bagi saya adalah hampir semua orang belanda bersepeda, konon jumlah sepeda di belanda lebih banyak daripada jumlah penduduknya. Belanda memang hanya berpenduduk sekitar 15 juta jiwa. 5 juta diantaranya adalah imigran dari Maroko, Afrika, Cina, Turki, Suriname, dan Indonesia tentunya. Ya, Indonesia khususnya orang-orang Ambon membentuk komunitas yang cukup besar disana dan banyak diantaranya kawin campur dengan warga belanda. Kegiatan saya selama di AZC Winterswijk adalah membuat summer activity untuk anak-anak para pencari suaka politik karena orang tua mereka tidak punya cukup dana untuk berlibur karena belum diperbolehkan bekerja di Belanda. Sedangkan di Emmaus Parkwijk Utrecht, saya membantu orang-orang Emmaus untuk mengumpulkan, menyortir, dan menjual barang-barang bekas. Nah, Emmaus adalah orang-orang yang mengalami masalah sosial masa lalu, kemudian hidup, bekerja, dan tinggal serumah bersama untuk belajar berkomunikasi dan bersosialisasi satu sama lainnya. Selain kedua kegiatan workcamp , saya juga mampir ke Rotterdam University karena saya punya teman yang kuliah disana. Di Universitas tersebut, saya diperkenalkan mengikuti kuliah dan ikut welcoming party untuk pembukaan semester. Selain itu saya juga sempat berkunjung ke salah satu keluarga Indonesia di Rotterdam yang telah menjadi warga Negara Belanda. Mereka dulunya adalah warga Indonesia yang mencari kerja ketika tahun 70-an. Di rumahnya, saya disuguhi berbagai macam masakan Indonesia seperti kolak, lumpia, lemper, dan sebagainya. Eh ternyata orang belanda sangat menyukai makanan Indonesia dimana kita bisa sangat mudah sekali menemukan kroket, dan sambal sate untuk French fries. Bahkan tidak sedikit supermarket yang menjual produk-produk makanan Indonesia.
Kembali ke masalah pendidikan, Saya pertama mendapat pendidikan bahasa inggris ketika berada di bangku SMP. Ketika pertama kali mendapat pelajaran bahasa inggris, saya sudah merasa ada ketertarikan yang tinggi. Kemudian, sewaktu di SMA, saya kursus bahasa inggris di LPK Kurnia Excellent Course yang merupakan salah satu kursus bahasa inggris ternama di Demak. Saya kursus sejak kelas satu semester dua sampai kelas saya lulus dari SMA. Dalam durasi yang lama belajar bahasa inggris di KEC, saya selalu menyempatkan waktu untuk ngobrol dengan teman-teman sekelas saya untuk berlatih bicara bahasa inggris. Jadi, semenjak itulah saya mulai bisa berbicara bahasa inggris walaupun tidak terlalu lancar. Kemudian, setelah saya bergabung dengan IIWC (Indonesia International WorkCamp) saya bertemu dengan banyak sekali orang-orang asing dan seiring dengan itu bahasa inggris saya meningkat karena saya aktif berkomunikasi dengan mereka. Di tengah kesibukan saya kuliah dan kegiatan organisasi, saya juga tidak kalah sibuk dengan bekerja part time untuk mencukupi kebutuhan saya sehari-hari. Saya pernah menjalani pekerjaan sebagai mentor les tambahan anak SD dan SMP dan sejak semester tiga saya sudah mulai menjadi surveyor atau pengumpul data dalam berbagai hal. Say pernah menjadi surveyor untuk pertamina tentang pelayanan SPBU se-Kota Semarang, survey kepuasan pelanggan IM3 wilayah Jepara dan juga surveyor masalah pilkada dari para dosen. Dan dari semester awal sampai sekarang saya menjadi surveyor and petugas quick count tetap di LSI (Lembaga Survey Indonesia). LSI-lah yang paling saya senangi karena selain hasilnya mampu saya gunakan untuk uang saku saya selama perjalanan ke luar negeri, bekerja di LSI membuat saya banyak mobile ke berbagai wilayah di Jawa Tengah (Hampir semua kabupaten dan Kota), Sebagian Jogja dan Jawa Timur (Bojonegoro, Pacitan, Lamongan). Bekerja, tidak hanya mengajarkan saya tentang arti bekerja keras untuk mendapatkan peser demi peser uang, namun dengan bekerja saya dapat berlatih untuk hidup mandiri di tengah kondisi sebagian besar mahasiswa yang masih sangat dependen pada orang tua. Saya selalu merasa salut dengan teman-teman saya di Jepang, Korea, Eropa ataupun di berbagai belahan Negara maju lainnya bahwa kuliah sambil bekerja dapat membuat mereka menjadi mandiri dan matang dengan lebih cepat.
Saya yang sekarang adalah Arwani yang (walaupun nama saya aneh tapi nama ini selalu membawa keberuntungan) optimis dengan masa depan cerah dan selalu semangat menatap kehidupan. Harapan saya adalah saya mampu menyekolahkan semua adik-adik saya untuk dapat melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya sampai ke universitas. Cita-cita saya adalah menjadi seorang diplomat atau seseorang yang bekerja di salah satu institusi atau organisasi internasional dimana saya menemukan dunia saya disitu. Bagi saya tiap orang memiliki potensi yang sama, ini semua tergantung pada tiap-tiap individu untuk bagaimana mengelola potensi kita untuk menghasilkan suatu karya yang membanggakan. Setelah memenangkan mawapres Fisip ini saya menjadi lebih yakin bahwa sebenarnya sayamampu untuk berprestasi dan orang lainpun sebenarnya bisa jika mereka mau untuk mencoba meraihnya. Nah, mencoba adalah kata-kata yang perlu dicamkan baik-baik karena banyak orang yang berpotensi namun takut akan kompetisi. Di balik kegagalan sebenarnya adalah sebuah kesuksesan yang tertunda, semakin kita mencoba semakin kita tahu caranya untuk memenangkan sebuah kompetisi. Ini adalah sebuah curahan hati terdalam saya yang sebenarnya karna sebelum mawapres saya memang pribadi yang selalu takut untuk berkompetisi dan takut akan kegagalan, namun kompetisi mawapres mampu mengubahcara pandang saya akan makna kompetisi. Dalam sebuah kompetisi bagi saya poin plus yang kita dapatkan adalah proses ketika kita mengikuti sebuah kompetisi dan proses sewaktu kita melakukan persiapan. Dalam prose situ kita belajar tentang makan kehidupan tentang bagaimana untuk bersikap pantang menyerah, mempertahankan gejolak semangat, percaya diri, tanggung jawab dan masih banyak lainnya. Saya sangat berterima ksih sekali kepada smua pihak yang telah mendukung saya untuk menjadi yang terpilih sebagai mawapres fisip, walaupun saya sekarang mawapres fisip tapi saya harus tetap reandah hati. Tanggung jawab saya sekarang semakin besar untuk memberikan yang terbaik dalam mawapres tingkat universitas. Bagi saya kalah menang sama saja, tapi memberikan yang terbaik dari diri saya adalah sebuah tanggung jawab saya sebagai mawapres Fisip. Bagi yang lain, ingat jangan pernah takut akan kompetisi , kompetisi akan malah membuatmu menjadi seorang yang kuat dan membuat kita mengerti tentag makna sebuah perjuangan dalam hidup. Segala keterbatasan saya tidak akan manjadi pengahalang untuk berprestasi , yang sebenarnya penghalang untuk kita berani berprestasi adalah diri kita sendiri yakni mental tempe dan mental takut gagal. Semangat !!!!
More infos just send email to arwani.suratman@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar