Cari Blog Ini

Senin, 18 April 2011

Resensi Film “The Social Network”

Dalam film ini actor utamanya adalah Mark Zuckberger yaitu penemu facebook. Ya, facebook yang telah menjangkau hampir setiap sudut di dunia ini. Facebook saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan manusia dalam bersosialisasi.

Pada awalnya, Mark merasa depresi berat karena diputuskan oleh pacarnya. Pacarnya sudah muak sekali dengan Mark karena dalam setiap kencan mereka, Mark selalu berbicara hal-hal yang terlalu ilmiah dan terlalu susah untuk dipahami oleh orang awam. Akhirnya, kemuakan pacarnya membuat ia memutuskan hubungan dengan Mark. Karena frustasi berat, maka Mark melampiaskan marahnya dengan nulis di blognya dan dibaca banyak mahasiswa di Harvard University. Ia menumpahkan segala amarah dan emosinya dalam tulisannya itu.  Dalam waktu yang bersamaan Mark juga membuat sebuah kuis dalam the facemash untuk menebak salah satu wajah dari dua wajah yang ditampilkan mana yang paling cantik dari keduanya. Dengan cepat kuisnya tersebut menyebar di seluruh kalangan mahasiswa Harvard dan berkat itulah ia mulai dikenal lebih luas oleh mahasiswa Harvard. Tapi dengan itu juga, ia disidang oleh Dewan Universitas karena ulahnya itu telah melumpuhkan koneksi internet di Harvard. Kemudian, kabar ulah Mark itu didengar oleh si kembar Winklevos dan mereka akhirny menemui Mark untuk menawarkan sebuah kerjasama dalam merealisasikan ide mereka untuk membuat “The Facebook”. Dengan spontan, Mark menjawab “ya, I’m in.

Kemudian cerita berlanjut dimana aktivitas membuat facebook sangat menyita waktu Mark. Dia selalu terinspirasi dari celoteh teman-temannya untuk menambahkan konten baru dalam facebooknya seperti status, wall, photo profile, dan sebagainya. Hingga akhirnya facebook itu siap dan dia launching bersama teman baiknya yakni Eduardo. Launch pertama dikirimkan ke group “The Phoenix”, dan cepat menyebar di kalangan itu. Dan melihat keberhasilannya, Mark kemudian memperluas penyebaran facebook ke Kampus lain seperti Colombia, Yale. Hingg akhirnya kabar itu terdengar oleh Sean Parker (Penemu Napster/Pengunduh music online). Sean Parker akhirnya bergegas menemui Mark, dan menceritakan hal-hal yang perlu dilakukan oleh Mark untuk menjadikan facebook berharga milyaran dolar AS.

Atas saran itu, kemudian Mark siap untuk terus meng-ekspansi dan menyewa sebuah rumah di California  dan memperkerjakan beberapa orang dari mahasiswa Harvard. Di California, tak sengaja ia ketemu lagi dengan Sean Parker dan akhirnya Sean Parker bergabung dengan tim Mark dalam mengembangkan facebook bersama dengan Eduardo. Tapi pada saat itu, Eduardo sedang di New York untuk mencari klien iklan. Kedatangan Eduardo di California, sempat membuat pertengkaran dengan Mark karena Mark lebih mempercayai kemampuan Sean dalam mengembangkan bisnis facebooknya dan lihai dalam mencari klien bisni/investor. Akhirnya, Mark dan Sean menemui seorang investor yang ingin menanamkan saham senilai 500juta dolar AS. Hal tersebut tentu saja membuat Mark semakin optimis dan yakin kalau facebook yang ia kembangkan bernilai milyaran dolar. Dan pada akhirnya, mereka menempati sebuah gedung tinggi dalam menjalankan server facebook dan jumlah karyawannya pun semakin bertambah banyak. Kemudian, Mark terus memperluas facebook tidak hanya di Amerika, namun telah menjangkau di seluruh benua sampai saat ini. Namun, dalam perjalanan karir Mark, ia sempat disidang habis-habisan karena ia dituduh oleh si Kembar Winklevos atas pencurian ide mereka atas facebook. Dan cerita akhirnya adalah kedua si kembar itu bisa tutup mulut dengan diberi imbalan  sejumlah uang.

Cerita dari Negeri Belanda

Siapa sih yang tidak mengenal Negara Belanda. Negara ini terletak di Benua Eropa bagian Barat. Belanda dikenal dengan julukan negeri “Kincir Angin”, yak arena belanda memiliki jumlah kincir angin terbanyak sedunia. Hal ini menyangkut posisi negeri belanda yang berada di bawah permukaan air laut, dan dengan kepintaran orang Belanda jaman dulu mereka membendung lautan, dikeringkan menggunakan kincir-angin kincir-anginnya, dan dirubah menjadi daratan untuk dibangun permukiman. Sungguh hebat negeri ini. Negara kita juga memiliki kedekatan dengan Negara ini di masa lalu yakni kolonialisme dimana Belanda menjajah lebih kurang 350 tahun. Ini merupakan waktu yang sangat lama sehingga tidak sedikit di Negara kita banyak ditemui bangunan-bangunan peninggalan colonial Belanda.

Ceritaku ke Belanda bermula ketika aku mengikuti seleksi yang diselenggarakan oleh organisasiku yakni Indonesia International Work Camp. Organisasi IIWC memiliki kedekatan dengan organisasi di Belanda yang bernama SIW. Setiap tahunnya, SIW mengundang satu hingga dua orang dari Negara-negara selatan untuk berkesempatan mengunjungi Belanda. Jadi, semua biaya konsumsi, akomodasi, dan flight dikover oleh mereka.

Perjalanan ke Belanda merupakan perjalanan pertama kaliku ke negeri Eropa, negeri yang aku impikan untuk aku kunjungi selama ini. Aku berangkat akhir bulan Juli, pas ketika aku menyelesaikan ujian akhir semesterku di Undip. Aku akan berada disana selama kurang lebih satu bulan. Akhirnya, pesawat yang aku tumpangi landing juga di Bandara Schipol, Belanda. Bandaranya sungguh megah, bersih, dan bagus sekali dipadati dengan ribuan orang di dalamnya.  Karena aku tidak ada yang menjemput, dan aku dijemputnya di Utrecht, maka aku harus naik kereta ke Utrecht untuk pertama kalinya. Satu-satunya yang aku bisa lakukan adalah bertanya dan bertanya bagaimana mendapatkan tiket ke Utrecht dan seperti apa keretanya. Untung, orang belanda sebagian besar cakap dalam berbahasa Inggris. Singkatnya, akhirnya aku berhasil mencapai Utrecht dan dijemput salah satu staff SIW.  Selama disana, aku menggunakan nomor Simpati dimana per sms berbiaya  Rp 4.000.

Selama satu bulan di Belanda, aku akan diikutkan dalam kegiatan workcamp atau kemah kerja. Workcamp pertamaku adalah di Winterswijk, daerah perbatasan dengan Jerman. Disana aku berkegiatan dengan anak-anak para pencari suaka politik yang datang bersama orang tua mereka untuk menjadi warga Negara Belanda dan bekerja di Belanda.  Mereka berasal dari  Negara-negara yang berkecamuk di beberapa bagian Afrika, Timur Tengah, Mongolia, dan Asia Tengah. Disini, mereka harus belajar bahasa dan budaya belanda sebelum mendapatkan status diakui menjadi warga Belanda. Mereka harus menunggu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Aktivitas workcamp yang aku lakukan dengan anak-anak mereka adalah bermain dan mengadakan kelas kerajinan/seni. Permainan yang kami lakukan semuanya di luar ruangan, baik menggunakan alat ataupun tidak. Sementara untuk aktivitas kerajinan kami lakukan di dalam ruangan.

Setelah dua minggu di Winterswijk, perjalanan aku lanjutkan ke Emmaus Parkwijk. Tempat ini tidak jauh dari Utrecht City. Untuk mencapai kesana, aku harus naik bus dari Central station Utrecth. Aktivitas workcamp kedua ini, aku berkegiatan membantu orang-orang Emmaus dalam pekerjaan mereka. Emmaus adalah sebutan untuk orang-orang yang memiliki masalah sosial seperti kecanduan alcohol, obat, perceraian, dan sebagainya, dimana orang-orang ini hidup bersama  dalam satu rumah untuk saling berbagi dan belajar, dan bekerja bersama-sama untuk menjual kembali barang-barang bekas. Ya, mereka bekerja dengan mengumpulkan barang-barang bekas, menyortirnya, dan menjualnya sebagai usable second hand. Disini aku juga menghabiskan waktu selama dua minggu.

Setelah semua kegiatan workcampku selesei, segera aku menuju ke Rotterdam untuk bertemu teman-temanku. Sesampainya disana aku dijemput oleh Duco, dan segera dibawanya aku ke Univ Rotterdam karena dia masih ada kelas. Dengan ijin dosen, akupun diajak mengikuti kelasnya. Di dalam kelas, suasana sangatlah rileks, dan tiap mahasiswa dengan bebas mengungkapkan opininya serta bercerita tentang masing-masing pengalamannya selama liburan di luar negeri. Aku memang berteman dengan Duco ketika dia datang ke Indonesia sebelum aku berangkat ke Belanda. Kelas juga dalam kelompok kecil yakni sekitar 15 orang. Setelah itu, aku bertemu dengan teman-temanku yang lain di welcoming party. Disana, aku diajak ngobrol oleh salah satu dosen Rotterdam univ yang cakap berbahasa Indonesia. Dan akhir perjalanan, aku mampir ke rumah salah satu orang Indonesia yang berkebangsaan Belanda. Di rumahnya aku sambut dengan berbagai masakan ala Indonesia yang aku rindukan selama di Belanda.

Ada beberapa fakta unik di Belanda yang aku jumpai. Pertama, jumlah sepeda onthel di Belanda sangat banyak sekali, konon jumlah sepeda di Belanda lebih banyak dibandingkan jumlah penduduknya. Kedua, ternyata banyak sekali warga Belanda yang masih keturunan Indonesia entah itu setengah atau seperempat. Bahkan disana banyak sekali warga Ambon dari eksodus masal  yang kawin campur dengan orang-orang Belanda. Ketiga, masyarakat Belanda sangat gemar sekali dengan masakan Indonesia, yang paling terkenal seperti kroket, lumpia, dan saus sate. Di sana, kita bisa menjumpai supermarket yang khusus menjual berbagai produk masakan Indonesia. Keempat, ada banyak sekali nama-nama jalan di belanda menggunakan nama-nama Indonesia seperti Surabayastraat, Semarangstraat, Sumaterastraat, Kartinistraat’, dan lainnya. Kelima, Belanda menjadi Negara yang paling ketat penegakan hukumnya dimana jika ada pelanggaran sedikitpun terhadap aturan-aturan akan didenda. Keenam, belanda sangat peduli dengan masyarakat yang kurang mampu dengan menyediakan hiburan gratis, biaya hidu, transportasi gratis dan sebagainya. Ketujuh, Belanda sangat peduli dengan kondisi pelajarnya dimana pelajar akan mendapatkan uang saku berdasar besaran penghasilan orang tua, serta transportasi gratis. Kedelapan, orang belanda sangat suka sekali makan kentang goreng ditemani dengan saus kacang/saus sate. Kesembilan, ada perayaan unik yang dirayakan oleh warga Belanda yaitu “Gay Pride” dimana para gay dengan bebas mengekspresikan keinginan dan kehendak mereka, jadi jangan heran kalau di jalan-jalan ada orang sesama jenis bergandeng tangan atau bermesraan. Kesepuluh, kanal-kanal di Belanda tidak pernah naik ataupun surut walaupun hujan. Jadi airnya selalu stabil karena dikontrol oleh Bendungan.

Lihatlah Keatas Jika Mau Sukses, dan Lihatlah ke Bawah Jika Mau Mengeluh

Banyak dari masyarakat kita yang tergolong dalam ekonomi menengah ke bawah. Bahkan berdasarkan perhitungan Bank Dunia dengan standar penghasilan US $ 2/hari membuat Indonesia berpenduduk miskin dengan besaran 50%. Ya, tentu saja ini merupakan angka yang sangat mengejutkan. Jika kita melihat di berbagai sudut wilayah Negara ini baik di desa maupun kota, tidak sedikit kita melihat berat dan kerasnya kehidupan saudara-saudara kita. Tapi, jika kita terus mengeluh dan melamunkan berbagai penderitaan tersebut maka niscaya kita akan mampu membawa diri kita dan Negara kita menuju kesuksesan mengejar ketertinggalan dengan Negara lain.

Tanamlah selalu sikap opimitis dalam diri kita bahwa dengan berani bermimpi, maka kita sudah mulai menginjakkan kaki menuju puncak kesuksesan. Tapi apalah arti bermimpi atau bercita-cita tanpa dibarengi dengan usaha dan keyakinan. Kita harus berkomitmen terhadap apa yang kita cita-citakan dan terus yakin bahwa segala sesuatu akan menjadi mungkin dan kita raih apabila kita berani untuk mengambil tindakan. So, itulah yang banyak dilupakan sebagian besar dari kita bahwa banyak yang bermimpi menjadi sukses, tapi takut untuk mencoba. Selain itu, tanamkanlah selalu dalam pikiran kita bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang masa depan. Kita bisa melihat banyak sekali tokoh-tokoh dunia yang berhasil menjadi kaya ataupun menemukan berbagai macam alat-alat canggih yang kita rasakan saat ini tidak terlepas dari pendidikan. Tidak jauh dari Negara kita di Asia yakni Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, dan Singapura yang maju negaranya karena sangat menjunjung tinggi pendidikan. Pemerintah maupun masyarakat disana sangatlah menghargai pentingnya berpendidikan tinggi. Ada pepatah mengatakan bahwa belajarlah sampai ajal menjemput kita. Belajar tidaklah harus berada di sekolah, tapi belajar bisa lakukan dimanapun dan kapanpun. Alam, kehidupan, buku, internet, orang-orang sekitar dan berbagai hal di sekitar kita bisa kita jadikan laboratorium untuk belajar. Bahkan  beberapa orang yang mengalami kecacatan fisik seperti kebutaan, dan tuna rungu mampu menunjukkan bahwa mereka bisa berpendidikan tinggi dan meraih kesuksesan. Banyak diantara mereka yang mampu kuliah di luar negeri, dan akhirnya menjadi dosen. Jika kita melihat film laskar pelangi yang sangat terkenal beberapa waktu lalu seakan member pelajaran bagi kita bahwa keterbatasan tidak akan mampu menghalangi orang-orang yang berani bermimpi dan mengambil langkah-langkah mewujudkannya.

Keterbatasan seolah menjadi kata yang mampu mengungkung pikiran dan keberanian kita untuk menjadi orang yang sukses. Ada berbagai macam keterbatasan dalam hidup manusia baik keterbatasan fisik (cacat fisik), maupun keterbatasan non-fisik seperti keterbatasan ekonomi, akses, dan sebagainya. Diantara sekian banyak keterbatasan, yang paling mendera sebagian besar masyarakat kita adalah kemiskinan. Ya, kemiskinan memang menjadi momok bagi sebagian masyarakat putus asa untuk menggapai kesuksesan. Tapi ingat bahwa banyak sekali masyarakat dunia yang mampu menjadi orang-orang sukses dan besar berawal dari kemiskinan. Kadang aku berpikir dan mengeluh kenapa aku dilahirkan dari keluarga yang pas-pas-an. Tapi ketika aku bertemu dengan tetangga-tetangga aku, ternyata aku sangat lebih beruntung dari mereka. Sampai saat ini mereka masih hidup dalam belenggu kemiskinan. Hidup susah, anak banyak, makan seadanya, dan suami bekerja serabutan dengan penghasilan tidak tentu. Hal ini membuat aku dengan segera bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa ternyata nasib aku lebih baik daripada saudara-saudara aku. Walaupun orang tua aku bekerja sebagai petani dan pekerja swasta lantas tidak membuat aku mudah menyerah pada nasib. Aku yakin bahwa dengan pendidikan tinggi dibarengi dengan motivasi untuk belajar seumur hidup, maka aku bisa mengubah nasib keluargaku dan mengubah nasib dunia. Kelak, ketika  aku sukses aku akan selalu berpikir untuk mengangkat lebih banyak orang lagi untuk berkesempatan berpendidikan tinggi. Aku ingin sekali menyekolahkan anak-anak tetanggaku yang masih terbelenggu kemiskinan. Lantaskah aku selalu mengeluh dengan keterbatasanku ini, tentu itu malah akan membuat semangatku menciut.  Jadi, sekarang aku akan selalu bersyukur dan memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuaku yang telah membanting tulang menyekolahkan aku sampai perguruan tinggi. “Thanks to My Mom and Dad, without you I’ll be no one and nothing “. Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Semangat bagi kita semua.

Minggu, 10 April 2011

Siapa Bilang Studi Jurusan Kuliah Menentukan Masa Depan Kita ?


Mungkin banyak dari kita yang menganggap bahwa studi atau jurusan yang kita ambil di universitas akan membuat kita kalau bekerja harus sesuai dengan studi jurusan kita. Itu adalah sebuah paradigma lama yang bisa saya samakan dengan paradigmaa anak SMA. Saya secara pribadi juga sebelumnya pernah mengalami hal yang sama ketika saya baru akan lulus SMA pusing tujuh keliling untuk menentukan jurusan apa yang cocok dengan saya, tapi lebih tepatnya adalah pikiran ke depan akan pekerjaan apa yang akan saya lakoni ketika saya nanti lulus kuliah. Nah, hal itu tentu saja membuat banyak dari kita menganggap bahwa studi yang kita ambillah yang akan menentukan jenis pekerjaan kita nantinya. Tapi perlu saya garis bawahi sekali lagi disini bahwa pemikiran seperti adalah salah kaprah dan tidak sesuai dengan realita.

Jauhkanlah pemikiran bahwa dengan kuliah saya akan tercetak menjadi tenaga yang handal dalam dunia kerja dan akan mendapatkan posisi kerja yang mapan. Jika hal itu menjadi paradigma kita, maka kita sama saja menyamakan kuliah sama dengan mesin produksi yang setiap saat mencetak produk yang layak digunakan oleh user (perusahaan, instansi, dan lain-lain). Kita perlu merubah hal itu bahwa kuliah sebenarnya adalah mampu mengubah pola pikir dan cara pandang kita akan kehidupan, dan masa depan. Orang yang kuliah adalah orang-orang yang mendapat pengetahuan lebih tinggi dan dengan pengetahuan yang lebih itu seharusnya membuat kita menjadi individu pemikir (thinker). Jika kita hanya berpikir bahwa studi kita menentukan masa depan dan pekerjaan kita, maka kita laksana “katak dalam tempurung”. Kita akan menjadi pribadi yang berpikiran sempit, dan membuat kita untuk selalu berpikir dan belajar hal-hal yang melulu sesuai dengan studi yang kita ambil.

Perlu ditekankan bahwa jurusan di kuliah hanyalah penunjang bagi karir di dunia kerja. Dunia kerja lebih membutuhkan orang-orang yang cakap (skillful) yang mampu menggerakkan roda usaha perusahaan atau institusi. Maksud saya disini adalah banyak sekali perusahaan yang menyeleksi calon karyawannya yang pertama dilihat bukanlah dari IPK ataupun jurusannya namun lebih karena soft skill apa yang kita miliki dan mampu kita tawarkan semenarik mungkin pada perusahaan. Soft skill disini bisa bermacam-macam seperti kemampuan komunikasi bahasa asing, computer, leadership, teamwork, cakap berbicara, percaya diri dan kepribadian-kepribadian positive lainnya. Memang penting jurusan kita terhadap kemampuan kita dalam bekerja, tapi apa yang mau dibanggakan kalau IPK tinggi, jurusan bagus, dari universitas prestisius, namun kita gugup ketika wawancara atau kemampuan bahasa inggris kita NOL BESAR. Kita akan sangat malu, dan siap-siap untuk ditolak dan tidak dibutuhkan oleh dunia kerja lagi  mungkin. Inilah pentingnya mengasah kemampuan softskill selama masih kuliah dengan mengikuti berbagai aktivitas organisasi, training, seminar, workshop atau kegiatan-kegiatan pengasahan skill lainnya seperti kursus misalnya. Itulah sebenarnya alasan utama yang membuat banyak mahasiswa kita yang menjadi pengangguran atau sulit mendapatkan pekerjaan. Dunia kerja adalah dunia yang penuh kompetisi, maka sebelum kita terjun kesana maka rajin-rajinlah bagi kita untuk mengumpulkan bekal sebanyak mungkin, bekalnya adalah softskill. Kemampuan akademis kita selama di universitas mau tidak mau harus diimbangi dengan berbagai kemampuan softskill.

Saya yakin semua orang memiliki potensi yang sama, tinggal bagaimana kita mengasah potensi yang kita miliki adalah yang nantinya membedakannya. Jika mau maju, marilah kita mulai mempersiapkan bekal kita untuk menatap masa depan yang cerah dengan optimisme. Bekal yang cukup akan membuat kita untuk selalu percaya diri, siap, dan selalu berpikiran maju ke depan. Satu kata terakhir “Be Inspired or will be Expired ”

Belajar dari Korea Selatan selama Work Camp


Pada Januari 2011 yang lalu, aku berkesempatan menjadi leader dalam bilateral workcamp antara IIWC Indonesia dengan KNCU Korea Selatan. Peserta Indonesia yakni hanya aku, matsu (mahasiswa Undip sastra Jepang), dan Rina (Mahasiswa USM Psikologi). Sedangkan peserta Korea Selatan berjumlah sepuluh orang, empat perempuan dan enam laki-laki. Mereka semua adalah orang-orang yang terpilih melalui seleksi yang diadakan oleh Universitas mreka yaitu Hongik University di Seoul Korea Selatan. Seperti yang saya jelaskan sebelum-sebelumnya bahwa aktivitas workcamp adalah semacam KKN tapi lingkupnya yang lebih luas karena melibatkan pihak-pihak dari luar negeri disamping jangka waktunya yang lebih pendek yakni dua minggu saja.

Selama hidup dua minggu dengan mereka, akupun telah melakukan berbagai macam hal bersama, dan seringkali aku sharing dengan mereka tentang studi maupun membandingkan kehidupan di Indonesia dan Korea Selatan. Selain itu, akupun sering mengamati tingkah-laku atau kebiasaan mereka dan seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan menjejali pikiranku. Kesan selama hidup dengan orang Korea Selatan adalah mereka sangat sopan sekali dan sangat mudah mengucapkan kata-kata “maaf”. Yang saya suka dari mereka adalah walaupun mereka dari Negara maju, tapi mereka tidak pernah sama sekali merendahkan Negara Indonesia yang kondisinya masih tertinggal. Mereka adalah tipe orang-orang yang sangat ulet dan pekerja keras. Kerasnya mereka bekerja bahkan tidak terlalu melihat waktu. Seringkali saya melihat mereka tidur larut malam sekali karena mereka perlu berdiskusi dahulu secara matang untuk kegiatan-kegiatan esok hari. Ketika saya Tanya kenapa perlu melakukan itu, secara spontan dijawab “Ya, karena kami harus bisa memberikan yang terbaik dan kami harus selalu siap”. Bahkan ketika ada malam pertukaran budaya, mereka menghabiskan waktu yang sangat lama sekali untuk penampilan mereka. Itu dijawabnya karena orang Korea Selatan harus tampil perfect dalam setiap performance mereka. Makanya penting sekali bagi orang Korea Selatan untuk mengadakan persiapan dalam jangka waktu yang cukup lama untuk berlatih agar bisa memberikan penampilan terbaik mereka.

Orang Korea Selatan adalah tipikal orang yang sangat kompetitif,sejak lahir mereka dibiasakan hidup untuk berkompetisi dan menjadi yang terbaik diantara yang lain. Mereka sadar bahwa Negara mereka miskin SDA, makanya satu-satunya sumber penghidupan Korea Selatan selatan adalah dari kecerdasan intelektual orang-orangnya. Hidup di Korea Selatan Selatan sama sekali berbeda dengan di Negara kota. Orang Korea Selatan menghabiskan hari-harinya dengan belajar, belajar , dan belajar. Mereka biasanya memulai waktu belajarnya di sekolah mulai jam 8 pagi sampai 4 atau 5 sore. Kemudian, mereka melanjutkan belajar lagi dengan les tambahan oleh sekolah tiga sampai empat jam. Ya, sekolah-sekolah di Korea Selatan diwajibkan untuk memberikan les tambahan setelah jam sekolah berakhir. Setelah itu, pendidikan mereka lanjutkan dengan pendidikan non formal seperti mengikuti kursus musik, kursus, menari, atau yang lainnya. Kemudian setelah sampai di rumah, guru les privat mereka telah menunggu untuk memberikan bimbingan belajar bagi mereka. Tidak heran mereka harus tidur diatas jam 12 malam karena kesibukan mereka untuk belajar, belajar, dan belajar. Jadi, pendidikan dan belajar bagi orang Korea Selatan sudah menjadi nafas kehidupan bagi mereka. Jadi maju-tidaknya Negara ini akan ditentukan oleh orang-orang di dalam Negara itu sendiri. Sudah semestinya fighting spirit orang-orang Korea Selatan kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita mampu menjadi pribadi yang unggul.

Kamis, 07 April 2011

Pengalaman Seleksi Mawapres Fisip Undip


Waktu itu (pertengahan maret 2011) aku melihat ada info tentang pendaftaran mawapres tingkat jurusanku yakni jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisip- Undip. Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk mendaftar karena tahun kemarin aku juga tidak ikut mendaftar. Tapi ketika aku memasuki ruang jurusan, salah satu dosen memanggilku dan menanyakan tentang IPK-ku, sontak saja aku  menjawab “3,82 Bu”. Sesaat setelah itu, Ibu itu (Bu Rina) menyuruhku kenapa tidak ikut saja untuk seleksi mawapres, kan dimanfaatin IPK yang bagus. Sudah kemana-mana tapi di dalam kampus sendiri tidak berbuat apa-apa. Ya sih, sebelumnya aku udah pernah ikut seminar ke Kamboja dan terakhir mengikuti workcamp di Belanda. Aku memang sangat suka sekali dengan dunia internasional, it’s full of fun inside !!. Well, namun ketertarikanku pada dunia akademis seperti lomba karya ilmiah atau esay dan yang lainnya sangatlah kurang. Entahlah, aku selalu merasa less interested..

Kembali pada masalah pendaftaran mawapres, karena hanya tiga orang saja yang mendaftar di jurusanku akhirnya kita bertiga langsung dikirim untuk mewakili jurusan di seleksi tingkat Fakultas. Ini merupakan pengalaman pertamaku ikut mawapres dan juga yang lainnya. Setelah beberapa hari, aku mendapat info untuk hadir dalam ruang aula fisip dalam proses seleksi mawapres. Dengan meminjam jas almamater temanku, aku berangkat (maklum jas almamaterku sudah lama dihilangkan oleh salah satu temanku). Di aula, tempat seleksi diatur sedemikian rupa menjadi empat pos yakni pos karya tulis ilmiah, pos bahasa inggris, pos kepribadian, dan pos kegiatan ekstra-kulikuler. Selain S-1 ternyata seleksi juga dibarenkan dengan D-3. Dari S-1 ada 11 orang mahasiswa, masing-masing jurusan (empat jurusan) mengirimkan tiga orang mahasiswanya kecuali ada salah satu jurusan yang mengirimkan hanya dua orang. Untuk D-3  jumlah mahasiswanya mungkin sekitar 10-12 orang.

Setelah cukup lama menunggu, pertama kami mendapat arahan singkat dari Pak Handoyo (PD 3 Fisip). Beliau member semangat pada kami semua bahwa dalam kompetisi jangan takut kalah yang penting berikan semaksimal mungkin dari diri kita. Ada hal yang menarik diutarakan beliau bahwa mawapres fisip selalu dilirik oleh fakultas-fakultas yang lain karena sudah sejak lama mawapres fisip mampu menjadi juara pertama tingkat universitas dan beberapa diantaranya telah menjadi juara nasional, tentunya ini sangat membangggakan bagi Undip.Setelah mendengar arahan dan nasehat pak Hand, aku pun hanya berdoa dan berusaha untuk memberikan semaksimal mungkin semampu aku.

Namaku pertama kali dipanggil untuk masuk dalam pos bahasa inggris, namun karena penguji belum siap maka akupun disuruh kembali ke tempat duduk dan menunggu untuk dipanggil. Namun setelah lama menunggu akupun tidak kunjung dipanggil sementara yang lainnya sudah dipanggil lebih dulu. Ternyata setelah aku Tanya bahwa petugas bagian sirkulasi lupa atas namaku. Namun sesaat setelah itu aku kemudian dipanggil lagi, tapi untuk memasuki pos yang lain yakni pos karya tulis ilmiah. Dalam pos ini aku Cuma dikasih waktu lima menit untuk presentasi, bagi aku ini adalah waktu yang sangat singkat. Setelah selesai presentasi, akupun diberi beberapa pertanyaan dan alhamdulilah semua pertanyaan dapat aku jawab dengan tenang dan lancar..Thanks God. Karya tulis yang aku angkat adalah tema yang berkaitan dengan wilayah pasca konflik dengan judul Upaya Peacebuilding Anak-anak Ambon pascakonflik dan Kekerasan Ambon Tahun 1999 melalui Children Newspaper Program. Menurutku ini adalah setudi yang unik karena masih merupakan hal yang sangat baru di Indonesia dan mampu menjadi solusi kreatif bagi permasalahan Indonesia yang rentan terhadap berbagai konflik dan kekerasan sosial yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Lanjut kemudian aku dipanggil lagi untuk memasuki pos ke-organisasian mahasiswa atau ekstrakulikuler. Disini, aku hanya disuruh menunjukkan berbagai bukti atau sertifikat semua kegiatan kemahasiswaan maupun kulikuler yang telah aku lakukan selama ini. Untungnya dalam cukup banyak sertifikat ada dua yang pernah aku lakukan di luar negeri yakni Kamboja dan Belanda. Dibanding yang lain, sertifikat yang aku kumpulkan cukup banyak karena aku sudah rajin mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kulikuler sejak awal masuk kuliah hingga saat ini. Dalam pos ini, sebenarnya adalah pendataan setiap sertifikat yang aku miliki, cukup lama aku bertengger di pos tersebut.

Lalu, pos selanjutnya adalah pos kepribadian. Disini, aku mulai disuruh untuk mengenalkan siapa diri aku dan semakin jauh diberondong dengan berbagai pertanyaan kritis tentang kelemahan, kelebihan, maupun kegagalan dalam hidupku. Sebenarnya pertanyaan ini terdengar mudah tapi sebenarnya cukup sulit untuk dijawab. Menurutku semua jawaban yang aku ajukan adalah benar, karena itu semua adalah pertanyaan relative. Yang terpenting adalah kejujuran dan sikap tenang yang aku tunjukkan. Perlu diketahui bahwa dalam pos kepribadian, penguji juga menanyakan tentang visi ke depan kita mau kemana dan ingin menjadi apa. Dari situ akan dapat diketahui apakah kita seorang yang visioner atau bukan.

Pos terakhir adalah pos bahasa inggris. Pos yang sebenarnya menjadi pos pertama aku malah menjadi pos terakhir aku dan aku jugalah kontestan terakhir dalam pos ini. Di pos ini aku merasa cukup relaks dan optimis karena sebenarnya aku sudah cukup terbiasa bicara bahasa inggris. Yah, itu semua karena pengalaman aku yang cukup lama terjun dalam dunia international voluntary service di LSM IIWC selama lebih dari dua tahun. Selama aku berkarya di sana, aku sering ketemu dengan relawan-relawan asing dan tentunya mengasah aku untuk selalu mempergunakan bahasa inggris dalam berkomunikasi. Dalam pos ini, aku pertama disuruh untuk perkenalan diri, kemudian dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan tentang kehidupan aku atau mungkin akan ditanya tentang isu-isu terhangat saat ini. Dan terakhir, aku disuruh menceritakan tentang karya tulisku dalam bahasa inggris. Lega rasanya setelah melewati semua pos.

Sehari setelah seleksi mawapres Fisip, aku terkejut ketika beberapa dosen di ruang jurusan aku mengucapkan ucapan selamat atas terpilihnya aku menjadi juara satu mawapres Fisip. Aku setengah tidak percaya karena pengumuman resmi belum ada. Ternyata, dua dosenku yang menjadi penguji kemarin telah mendapatkan hasilnya dalam sidang pleno. Akupun merasa senang pada akhirnya tapi masih setengah percaya karena aku tidak ada gambaran sebelumnya akan menempati posisi satu. Yah, Sujud syukur akhirnya aku limpahkan pada Kehadirat Tuhan YME atas segala rencana besarnya terhadapku. Aku merasa bahwa dibalik tertundanya kelulusanku ada sesuatu yang besar menantiku. Dari situlah aku mulai belajar tentang hikmah-hikmah yang aku dapatkan dalam sebuah ketertundaan atau bahkan kegagalan. Aku sekarang yakin bahwa Tuhan punya selalu rencana besar dan terbaik buat diriku. Semenjak aku memenangkan mawapres Fisip, gairahku untuk terus maju dan berkarya menjadi semakin meningkat. Sekarang aku tidak takut lagi akan sebuah kompetisi, malahan sekarang aku menyesal telah meninggalkan banyak sekali kompetisi yang seharusnya bisa membawaku lebih berprestasi sejak aku masuk kuliah sampai detik sebelum aku memutuskan ikut mawapres. Untuk rasa terima kasih ini pertama aku tujukan kepada Ibu Rina Martini selaku skretaris jurusan ilmu pemerintahan Fisip Undip yang telah menjerumuskan aku untuk lebih berprestasi. Bagi aku sekarang adalah kompetisi bukanlah antara menang dan kalah tapi lebih penting adalah bagaimana kita memaksimalkan potensi kita dan belajar dari setiap proses yang kita lalui baik sebelum maupun ketika kompetisi dimulai. Sebagai mahluk pembelajar sudah sepatutnya kita mulai untuk tidak takut lagi mengikuti ajang-ajang kompetisi  demi mengejar ketertinggalan kita dari saudara-saudara kita di Negara maju. Tidak akan ada Negara yang maju tanpa adanya semangat kompetisi diantara warga negaranya. Go ahead !!!!

Pengalaman Seleksi Mawapres Fisip Undip


Waktu itu (pertengahan maret 2011) aku melihat ada info tentang pendaftaran mawapres tingkat jurusanku yakni jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisip- Undip. Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk mendaftar karena tahun kemarin aku juga tidak ikut mendaftar. Tapi ketika aku memasuki ruang jurusan, salah satu dosen memanggilku dan menanyakan tentang IPK-ku, sontak saja aku  menjawab “3,82 Bu”. Sesaat setelah itu, Ibu itu (Bu Rina) menyuruhku kenapa tidak ikut saja untuk seleksi mawapres, kan dimanfaatin IPK yang bagus. Sudah kemana-mana tapi di dalam kampus sendiri tidak berbuat apa-apa. Ya sih, sebelumnya aku udah pernah ikut seminar ke Kamboja dan terakhir mengikuti workcamp di Belanda. Aku memang sangat suka sekali dengan dunia internasional, it’s full of fun inside !!. Well, namun ketertarikanku pada dunia akademis seperti lomba karya ilmiah atau esay dan yang lainnya sangatlah kurang. Entahlah, aku selalu merasa less interested..

Kembali pada masalah pendaftaran mawapres, karena hanya tiga orang saja yang mendaftar di jurusanku akhirnya kita bertiga langsung dikirim untuk mewakili jurusan di seleksi tingkat Fakultas. Ini merupakan pengalaman pertamaku ikut mawapres dan juga yang lainnya. Setelah beberapa hari, aku mendapat info untuk hadir dalam ruang aula fisip dalam proses seleksi mawapres. Dengan meminjam jas almamater temanku, aku berangkat (maklum jas almamaterku sudah lama dihilangkan oleh salah satu temanku). Di aula, tempat seleksi diatur sedemikian rupa menjadi empat pos yakni pos karya tulis ilmiah, pos bahasa inggris, pos kepribadian, dan pos kegiatan ekstra-kulikuler. Selain S-1 ternyata seleksi juga dibarenkan dengan D-3. Dari S-1 ada 11 orang mahasiswa, masing-masing jurusan (empat jurusan) mengirimkan tiga orang mahasiswanya kecuali ada salah satu jurusan yang mengirimkan hanya dua orang. Untuk D-3  jumlah mahasiswanya mungkin sekitar 10-12 orang.

Setelah cukup lama menunggu, pertama kami mendapat arahan singkat dari Pak Handoyo (PD 3 Fisip). Beliau member semangat pada kami semua bahwa dalam kompetisi jangan takut kalah yang penting berikan semaksimal mungkin dari diri kita. Ada hal yang menarik diutarakan beliau bahwa mawapres fisip selalu dilirik oleh fakultas-fakultas yang lain karena sudah sejak lama mawapres fisip mampu menjadi juara pertama tingkat universitas dan beberapa diantaranya telah menjadi juara nasional, tentunya ini sangat membangggakan bagi Undip.Setelah mendengar arahan dan nasehat pak Hand, aku pun hanya berdoa dan berusaha untuk memberikan semaksimal mungkin semampu aku.

Namaku pertama kali dipanggil untuk masuk dalam pos bahasa inggris, namun karena penguji belum siap maka akupun disuruh kembali ke tempat duduk dan menunggu untuk dipanggil. Namun setelah lama menunggu akupun tidak kunjung dipanggil sementara yang lainnya sudah dipanggil lebih dulu. Ternyata setelah aku Tanya bahwa petugas bagian sirkulasi lupa atas namaku. Namun sesaat setelah itu aku kemudian dipanggil lagi, tapi untuk memasuki pos yang lain yakni pos karya tulis ilmiah. Dalam pos ini aku Cuma dikasih waktu lima menit untuk presentasi, bagi aku ini adalah waktu yang sangat singkat. Setelah selesai presentasi, akupun diberi beberapa pertanyaan dan alhamdulilah semua pertanyaan dapat aku jawab dengan tenang dan lancar..Thanks God. Karya tulis yang aku angkat adalah tema yang berkaitan dengan wilayah pasca konflik dengan judul Upaya Peacebuilding Anak-anak Ambon pascakonflik dan Kekerasan Ambon Tahun 1999 melalui Children Newspaper Program. Menurutku ini adalah setudi yang unik karena masih merupakan hal yang sangat baru di Indonesia dan mampu menjadi solusi kreatif bagi permasalahan Indonesia yang rentan terhadap berbagai konflik dan kekerasan sosial yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Lanjut kemudian aku dipanggil lagi untuk memasuki pos ke-organisasian mahasiswa atau ekstrakulikuler. Disini, aku hanya disuruh menunjukkan berbagai bukti atau sertifikat semua kegiatan kemahasiswaan maupun kulikuler yang telah aku lakukan selama ini. Untungnya dalam cukup banyak sertifikat ada dua yang pernah aku lakukan di luar negeri yakni Kamboja dan Belanda. Dibanding yang lain, sertifikat yang aku kumpulkan cukup banyak karena aku sudah rajin mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kulikuler sejak awal masuk kuliah hingga saat ini. Dalam pos ini, sebenarnya adalah pendataan setiap sertifikat yang aku miliki, cukup lama aku bertengger di pos tersebut.

Lalu, pos selanjutnya adalah pos kepribadian. Disini, aku mulai disuruh untuk mengenalkan siapa diri aku dan semakin jauh diberondong dengan berbagai pertanyaan kritis tentang kelemahan, kelebihan, maupun kegagalan dalam hidupku. Sebenarnya pertanyaan ini terdengar mudah tapi sebenarnya cukup sulit untuk dijawab. Menurutku semua jawaban yang aku ajukan adalah benar, karena itu semua adalah pertanyaan relative. Yang terpenting adalah kejujuran dan sikap tenang yang aku tunjukkan. Perlu diketahui bahwa dalam pos kepribadian, penguji juga menanyakan tentang visi ke depan kita mau kemana dan ingin menjadi apa. Dari situ akan dapat diketahui apakah kita seorang yang visioner atau bukan.

Pos terakhir adalah pos bahasa inggris. Pos yang sebenarnya menjadi pos pertama aku malah menjadi pos terakhir aku dan aku jugalah kontestan terakhir dalam pos ini. Di pos ini aku merasa cukup relaks dan optimis karena sebenarnya aku sudah cukup terbiasa bicara bahasa inggris. Yah, itu semua karena pengalaman aku yang cukup lama terjun dalam dunia international voluntary service di LSM IIWC selama lebih dari dua tahun. Selama aku berkarya di sana, aku sering ketemu dengan relawan-relawan asing dan tentunya mengasah aku untuk selalu mempergunakan bahasa inggris dalam berkomunikasi. Dalam pos ini, aku pertama disuruh untuk perkenalan diri, kemudian dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan tentang kehidupan aku atau mungkin akan ditanya tentang isu-isu terhangat saat ini. Dan terakhir, aku disuruh menceritakan tentang karya tulisku dalam bahasa inggris. Lega rasanya setelah melewati semua pos.

Sehari setelah seleksi mawapres Fisip, aku terkejut ketika beberapa dosen di ruang jurusan aku mengucapkan ucapan selamat atas terpilihnya aku menjadi juara satu mawapres Fisip. Aku setengah tidak percaya karena pengumuman resmi belum ada. Ternyata, dua dosenku yang menjadi penguji kemarin telah mendapatkan hasilnya dalam sidang pleno. Akupun merasa senang pada akhirnya tapi masih setengah percaya karena aku tidak ada gambaran sebelumnya akan menempati posisi satu. Yah, Sujud syukur akhirnya aku limpahkan pada Kehadirat Tuhan YME atas segala rencana besarnya terhadapku. Aku merasa bahwa dibalik tertundanya kelulusanku ada sesuatu yang besar menantiku. Dari situlah aku mulai belajar tentang hikmah-hikmah yang aku dapatkan dalam sebuah ketertundaan atau bahkan kegagalan. Aku sekarang yakin bahwa Tuhan punya selalu rencana besar dan terbaik buat diriku. Semenjak aku memenangkan mawapres Fisip, gairahku untuk terus maju dan berkarya menjadi semakin meningkat. Sekarang aku tidak takut lagi akan sebuah kompetisi, malahan sekarang aku menyesal telah meninggalkan banyak sekali kompetisi yang seharusnya bisa membawaku lebih berprestasi sejak aku masuk kuliah sampai detik sebelum aku memutuskan ikut mawapres. Untuk rasa terima kasih ini pertama aku tujukan kepada Ibu Rina Martini selaku skretaris jurusan ilmu pemerintahan Fisip Undip yang telah menjerumuskan aku untuk lebih berprestasi. Bagi aku sekarang adalah kompetisi bukanlah antara menang dan kalah tapi lebih penting adalah bagaimana kita memaksimalkan potensi kita dan belajar dari setiap proses yang kita lalui baik sebelum maupun ketika kompetisi dimulai. Sebagai mahluk pembelajar sudah sepatutnya kita mulai untuk tidak takut lagi mengikuti ajang-ajang kompetisi  demi mengejar ketertinggalan kita dari saudara-saudara kita di Negara maju. Tidak akan ada Negara yang maju tanpa adanya semangat kompetisi diantara warga negaranya. Go ahead !!!!