Banyak dari masyarakat kita yang tergolong dalam ekonomi menengah ke bawah. Bahkan berdasarkan perhitungan Bank Dunia dengan standar penghasilan US $ 2/hari membuat Indonesia berpenduduk miskin dengan besaran 50%. Ya, tentu saja ini merupakan angka yang sangat mengejutkan. Jika kita melihat di berbagai sudut wilayah Negara ini baik di desa maupun kota, tidak sedikit kita melihat berat dan kerasnya kehidupan saudara-saudara kita. Tapi, jika kita terus mengeluh dan melamunkan berbagai penderitaan tersebut maka niscaya kita akan mampu membawa diri kita dan Negara kita menuju kesuksesan mengejar ketertinggalan dengan Negara lain.
Tanamlah selalu sikap opimitis dalam diri kita bahwa dengan berani bermimpi, maka kita sudah mulai menginjakkan kaki menuju puncak kesuksesan. Tapi apalah arti bermimpi atau bercita-cita tanpa dibarengi dengan usaha dan keyakinan. Kita harus berkomitmen terhadap apa yang kita cita-citakan dan terus yakin bahwa segala sesuatu akan menjadi mungkin dan kita raih apabila kita berani untuk mengambil tindakan. So, itulah yang banyak dilupakan sebagian besar dari kita bahwa banyak yang bermimpi menjadi sukses, tapi takut untuk mencoba. Selain itu, tanamkanlah selalu dalam pikiran kita bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang masa depan. Kita bisa melihat banyak sekali tokoh-tokoh dunia yang berhasil menjadi kaya ataupun menemukan berbagai macam alat-alat canggih yang kita rasakan saat ini tidak terlepas dari pendidikan. Tidak jauh dari Negara kita di Asia yakni Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, dan Singapura yang maju negaranya karena sangat menjunjung tinggi pendidikan. Pemerintah maupun masyarakat disana sangatlah menghargai pentingnya berpendidikan tinggi. Ada pepatah mengatakan bahwa belajarlah sampai ajal menjemput kita. Belajar tidaklah harus berada di sekolah, tapi belajar bisa lakukan dimanapun dan kapanpun. Alam, kehidupan, buku, internet, orang-orang sekitar dan berbagai hal di sekitar kita bisa kita jadikan laboratorium untuk belajar. Bahkan beberapa orang yang mengalami kecacatan fisik seperti kebutaan, dan tuna rungu mampu menunjukkan bahwa mereka bisa berpendidikan tinggi dan meraih kesuksesan. Banyak diantara mereka yang mampu kuliah di luar negeri, dan akhirnya menjadi dosen. Jika kita melihat film laskar pelangi yang sangat terkenal beberapa waktu lalu seakan member pelajaran bagi kita bahwa keterbatasan tidak akan mampu menghalangi orang-orang yang berani bermimpi dan mengambil langkah-langkah mewujudkannya.
Keterbatasan seolah menjadi kata yang mampu mengungkung pikiran dan keberanian kita untuk menjadi orang yang sukses. Ada berbagai macam keterbatasan dalam hidup manusia baik keterbatasan fisik (cacat fisik), maupun keterbatasan non-fisik seperti keterbatasan ekonomi, akses, dan sebagainya. Diantara sekian banyak keterbatasan, yang paling mendera sebagian besar masyarakat kita adalah kemiskinan. Ya, kemiskinan memang menjadi momok bagi sebagian masyarakat putus asa untuk menggapai kesuksesan. Tapi ingat bahwa banyak sekali masyarakat dunia yang mampu menjadi orang-orang sukses dan besar berawal dari kemiskinan. Kadang aku berpikir dan mengeluh kenapa aku dilahirkan dari keluarga yang pas-pas-an. Tapi ketika aku bertemu dengan tetangga-tetangga aku, ternyata aku sangat lebih beruntung dari mereka. Sampai saat ini mereka masih hidup dalam belenggu kemiskinan. Hidup susah, anak banyak, makan seadanya, dan suami bekerja serabutan dengan penghasilan tidak tentu. Hal ini membuat aku dengan segera bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa ternyata nasib aku lebih baik daripada saudara-saudara aku. Walaupun orang tua aku bekerja sebagai petani dan pekerja swasta lantas tidak membuat aku mudah menyerah pada nasib. Aku yakin bahwa dengan pendidikan tinggi dibarengi dengan motivasi untuk belajar seumur hidup, maka aku bisa mengubah nasib keluargaku dan mengubah nasib dunia. Kelak, ketika aku sukses aku akan selalu berpikir untuk mengangkat lebih banyak orang lagi untuk berkesempatan berpendidikan tinggi. Aku ingin sekali menyekolahkan anak-anak tetanggaku yang masih terbelenggu kemiskinan. Lantaskah aku selalu mengeluh dengan keterbatasanku ini, tentu itu malah akan membuat semangatku menciut. Jadi, sekarang aku akan selalu bersyukur dan memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuaku yang telah membanting tulang menyekolahkan aku sampai perguruan tinggi. “Thanks to My Mom and Dad, without you I’ll be no one and nothing “. Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Semangat bagi kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar