Siapa sih yang tidak mengenal Negara Belanda. Negara ini terletak di Benua Eropa bagian Barat. Belanda dikenal dengan julukan negeri “Kincir Angin”, yak arena belanda memiliki jumlah kincir angin terbanyak sedunia. Hal ini menyangkut posisi negeri belanda yang berada di bawah permukaan air laut, dan dengan kepintaran orang Belanda jaman dulu mereka membendung lautan, dikeringkan menggunakan kincir-angin kincir-anginnya, dan dirubah menjadi daratan untuk dibangun permukiman. Sungguh hebat negeri ini. Negara kita juga memiliki kedekatan dengan Negara ini di masa lalu yakni kolonialisme dimana Belanda menjajah lebih kurang 350 tahun. Ini merupakan waktu yang sangat lama sehingga tidak sedikit di Negara kita banyak ditemui bangunan-bangunan peninggalan colonial Belanda.
Ceritaku ke Belanda bermula ketika aku mengikuti seleksi yang diselenggarakan oleh organisasiku yakni Indonesia International Work Camp. Organisasi IIWC memiliki kedekatan dengan organisasi di Belanda yang bernama SIW. Setiap tahunnya, SIW mengundang satu hingga dua orang dari Negara-negara selatan untuk berkesempatan mengunjungi Belanda. Jadi, semua biaya konsumsi, akomodasi, dan flight dikover oleh mereka.
Perjalanan ke Belanda merupakan perjalanan pertama kaliku ke negeri Eropa, negeri yang aku impikan untuk aku kunjungi selama ini. Aku berangkat akhir bulan Juli, pas ketika aku menyelesaikan ujian akhir semesterku di Undip. Aku akan berada disana selama kurang lebih satu bulan. Akhirnya, pesawat yang aku tumpangi landing juga di Bandara Schipol, Belanda. Bandaranya sungguh megah, bersih, dan bagus sekali dipadati dengan ribuan orang di dalamnya. Karena aku tidak ada yang menjemput, dan aku dijemputnya di Utrecht, maka aku harus naik kereta ke Utrecht untuk pertama kalinya. Satu-satunya yang aku bisa lakukan adalah bertanya dan bertanya bagaimana mendapatkan tiket ke Utrecht dan seperti apa keretanya. Untung, orang belanda sebagian besar cakap dalam berbahasa Inggris. Singkatnya, akhirnya aku berhasil mencapai Utrecht dan dijemput salah satu staff SIW. Selama disana, aku menggunakan nomor Simpati dimana per sms berbiaya Rp 4.000.
Selama satu bulan di Belanda, aku akan diikutkan dalam kegiatan workcamp atau kemah kerja. Workcamp pertamaku adalah di Winterswijk, daerah perbatasan dengan Jerman. Disana aku berkegiatan dengan anak-anak para pencari suaka politik yang datang bersama orang tua mereka untuk menjadi warga Negara Belanda dan bekerja di Belanda. Mereka berasal dari Negara-negara yang berkecamuk di beberapa bagian Afrika, Timur Tengah, Mongolia, dan Asia Tengah. Disini, mereka harus belajar bahasa dan budaya belanda sebelum mendapatkan status diakui menjadi warga Belanda. Mereka harus menunggu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Aktivitas workcamp yang aku lakukan dengan anak-anak mereka adalah bermain dan mengadakan kelas kerajinan/seni. Permainan yang kami lakukan semuanya di luar ruangan, baik menggunakan alat ataupun tidak. Sementara untuk aktivitas kerajinan kami lakukan di dalam ruangan.
Setelah dua minggu di Winterswijk, perjalanan aku lanjutkan ke Emmaus Parkwijk. Tempat ini tidak jauh dari Utrecht City. Untuk mencapai kesana, aku harus naik bus dari Central station Utrecth. Aktivitas workcamp kedua ini, aku berkegiatan membantu orang-orang Emmaus dalam pekerjaan mereka. Emmaus adalah sebutan untuk orang-orang yang memiliki masalah sosial seperti kecanduan alcohol, obat, perceraian, dan sebagainya, dimana orang-orang ini hidup bersama dalam satu rumah untuk saling berbagi dan belajar, dan bekerja bersama-sama untuk menjual kembali barang-barang bekas. Ya, mereka bekerja dengan mengumpulkan barang-barang bekas, menyortirnya, dan menjualnya sebagai usable second hand. Disini aku juga menghabiskan waktu selama dua minggu.
Setelah semua kegiatan workcampku selesei, segera aku menuju ke Rotterdam untuk bertemu teman-temanku. Sesampainya disana aku dijemput oleh Duco, dan segera dibawanya aku ke Univ Rotterdam karena dia masih ada kelas. Dengan ijin dosen, akupun diajak mengikuti kelasnya. Di dalam kelas, suasana sangatlah rileks, dan tiap mahasiswa dengan bebas mengungkapkan opininya serta bercerita tentang masing-masing pengalamannya selama liburan di luar negeri. Aku memang berteman dengan Duco ketika dia datang ke Indonesia sebelum aku berangkat ke Belanda. Kelas juga dalam kelompok kecil yakni sekitar 15 orang. Setelah itu, aku bertemu dengan teman-temanku yang lain di welcoming party. Disana, aku diajak ngobrol oleh salah satu dosen Rotterdam univ yang cakap berbahasa Indonesia. Dan akhir perjalanan, aku mampir ke rumah salah satu orang Indonesia yang berkebangsaan Belanda. Di rumahnya aku sambut dengan berbagai masakan ala Indonesia yang aku rindukan selama di Belanda.
Ada beberapa fakta unik di Belanda yang aku jumpai. Pertama, jumlah sepeda onthel di Belanda sangat banyak sekali, konon jumlah sepeda di Belanda lebih banyak dibandingkan jumlah penduduknya. Kedua, ternyata banyak sekali warga Belanda yang masih keturunan Indonesia entah itu setengah atau seperempat. Bahkan disana banyak sekali warga Ambon dari eksodus masal yang kawin campur dengan orang-orang Belanda. Ketiga, masyarakat Belanda sangat gemar sekali dengan masakan Indonesia, yang paling terkenal seperti kroket, lumpia, dan saus sate. Di sana, kita bisa menjumpai supermarket yang khusus menjual berbagai produk masakan Indonesia. Keempat, ada banyak sekali nama-nama jalan di belanda menggunakan nama-nama Indonesia seperti Surabayastraat, Semarangstraat, Sumaterastraat, Kartinistraat’, dan lainnya. Kelima, Belanda menjadi Negara yang paling ketat penegakan hukumnya dimana jika ada pelanggaran sedikitpun terhadap aturan-aturan akan didenda. Keenam, belanda sangat peduli dengan masyarakat yang kurang mampu dengan menyediakan hiburan gratis, biaya hidu, transportasi gratis dan sebagainya. Ketujuh, Belanda sangat peduli dengan kondisi pelajarnya dimana pelajar akan mendapatkan uang saku berdasar besaran penghasilan orang tua, serta transportasi gratis. Kedelapan, orang belanda sangat suka sekali makan kentang goreng ditemani dengan saus kacang/saus sate. Kesembilan, ada perayaan unik yang dirayakan oleh warga Belanda yaitu “Gay Pride” dimana para gay dengan bebas mengekspresikan keinginan dan kehendak mereka, jadi jangan heran kalau di jalan-jalan ada orang sesama jenis bergandeng tangan atau bermesraan. Kesepuluh, kanal-kanal di Belanda tidak pernah naik ataupun surut walaupun hujan. Jadi airnya selalu stabil karena dikontrol oleh Bendungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar